Solfegio Forum
sejarah GAMELAN Jawa - Printable Version

+- Solfegio Forum (https://solfegio.com)
+-- Forum: Diskusi Umum (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=6)
+--- Forum: Musik Tradisional (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=34)
+--- Thread: sejarah GAMELAN Jawa (/showthread.php?tid=732)

Pages: 1 2


- mada pratama - 14-09-2010

Gamelan adalah seperangkat alat musik dengan nada pentatonis, yang terdiri dari : Kendang, Bonang, Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking (Gamelan), Kenong & Kethuk, Slenthem, Gender, Gong, Gambang, Rebab,, Siter, Suling.

Komponen utama alat musik gamelan adalah : bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan

Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa “gamel” yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran “an” yang menjadikannya sebagai kata benda.  Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang dimainkan bersama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah terciptanya alat musik ini. Tetapi, gamelan diperkirakan lahir pada saat budaya luar dari Hindu – Budha  mendominasi Indonesia. Walaupun pada perkembangannya ada perbedaan dengan musik India, tetap ada beberapa ciri yang tidak hilang, salah satunya adalah cara “menyanyikan” lagunya. Penyanyi pria biasa disebut sebagai wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana.

Menurut mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka. Beliau adalah dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana yang berada di gunung Mahendra di daerah Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu).

Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah “gong”, yang digunakan untuk memanggil para dewa. Setelah itu, untuk menyampaikan pesan khusus, Sang Hyang Guru kembali menciptakan beberapa peralatan lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.

Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).

Bukti otentik pertama tentang keberadaan gamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Pada relief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan tarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Gamelan yang berkembang di Jawa Tengah, sedikit berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut apabila dibandingkan dengan Gamelan Bali yang rancak serta Gamelan Sunda yang mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Menurut beberapa penelitian, perbedaan itu adalah akibat dari pengungkapan terhadap pandangan hidup “orang jawa” pada umumnya.

Pandangan yang dimaksud adalah : sebagai orang jawa harus selalu “memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak”. Oleh sebab itu, “orang jawa” selalu menghindari ekspresi yang meledak-ledak serta selalu berusaha mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud paling nyata dalam musik gamelan adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang sangat kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu “sléndro”,  “pélog”,  ”Degung” (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan “madenda” (juga dikenal sebagai diatonis), sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

    * Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu :  1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.

    * Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu :  1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.

Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yang terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.


Sumber :

    * wikipedia.org
    * yogyes.com
    * supriantoeko.ngeblogs.com
    * photobucket.com
    * ngeteh.files.wordpress.com
    * wacananusantara.org



- Ant On Baruna - 14-09-2010

Pembahasan gamelan juga ada di sini... [url="http://www.SOLFEGIO.com/topic/735-gamelan/"]Gamelan[/url]
Maap topik tersebut baru dipindahkan dari rumah lama...


- arie abimanyu - 14-09-2010

mada pratama Wrote:* Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu :  1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.

    * Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu :  1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.


Apa tidak salah itu........ :D
Saya rasa itu bukan nada pentatonis pelog dan slendro tetapi nada diatonis yang hampir mirip dengan nada pelog dan slendro. Coba anda dengarkan nada-nada slendro dan pelog gamelan jawa dengan nada-nada pada keyboard.



- mada pratama - 15-09-2010

maksud saya itu kira-kira sound nadanya kalau dimainkan lewat keyboard.sekedar contoh aja.trims koreksinya.


- arie abimanyu - 16-09-2010

Sampai detik ini saya kira belum ada sistem nada-nada pelog slendro yang dapat diaplikasikan pada keyboard kecuali sampai pada diciptakannya oleh para elektronika jawa sistem pelarasan pelog dan slendro di keyboard. :-?

:-/Jangan sampai kita mencontohkan yang keliru. Mungkin maksud anda nada-nada itu hanya mirip, menurut saya pun juga demikian. Tetapi tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa itu sama dengan keyboard hanya karena ada sebagian yang mirip.

Kebanyakan memang memahaminya seperti itu semenjak campursari tercipta........... [-O< :D


- mada pratama - 16-09-2010

ya betul maksud saya hanya mirip,ini sekedar contoh saja bagi yang benar2 awam tentang tangga nada slendro/pelog.klw pengen yg asli ya jelas dari sound gamelan asli to. :)


- NINOrash - 29-12-2010

Sebenarnya sudah ada orang yg mencoba nada nada dari gamelan dimasukan ke keyboard tapi hasilnya jadi gak natural jadi gak diteruskan.
Ini dilakukan Manthous bersama CSGK Majulancar. Yg pada akhirnya malah menggabungkan musik pentatonis dengan diatonis yang diberi nama CAMPURSARI. ini dilakukan untuk mempertahankan budaya dan tradisi jawa,  :-bd :-bd


- fauzip - 29-12-2010

punya rekaman yg kualitasnya bagus mas?


- mashandono - 09-04-2011

wah kok malah bingung ya sama nada gamelan..
padahal wong jowo tulen je  ;))


- ningnong techno - 03-06-2011

Kalau yang pengin laras pelog /slendronya sama persis sama gamelan, salah satu solusinya dengan mengedit tuning ditiap2 tuts kybod ( kl yamaha psr di menu scale tune )
Biasanya untuk membuat laras slendronya, karena menurut saya untuk larasan pelog anggap saja sudah mirip sama nada2 diatonis pada kyboard...