Solfegio Forum
Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - Printable Version

+- Solfegio Forum (https://solfegio.com)
+-- Forum: Sound System (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=4)
+--- Forum: Power Amplifier (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=21)
+--- Thread: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier (/showthread.php?tid=14170)

Pages: 1 2 3 4


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - bimo_tok - 13-12-2013

yang sabar ya... yang lain juga boleh kasih masukan apa saja yang perlu dicantumkan dalam pengukuran audio, namun akan saya tulis dulu apa yang pernah saya lakukan, walaupun dulu saya bukan bekerja di bidang audio tapi agak nyrempet2....

4. Cross talk
Cross talk ini adalah interferensi sinyal audio dari satu channel ke channel lainnya. Cara pengukurannya dengan memberikan sinyal sinus (biasanya 1kHz) pada salah satu channel saja. Kemudian diukur tegangan sinus tersebut pada semua channel. Idealnya channel yang tidak diberi sinyal pada masukannya, pada keluarannya juga tidak akan ada sinyal. Ketidakidealan inilah yang diukur, yaitu membandingkan tegangan sinus pada keluaran yang dibeli masukan sinyal sinus dan keluaran yang tidak diberi masukan sinyal sinus. Perbandingannya dalam bentuk desibel.

5. Input sensitivity
Adalah ukuran tegangan input maksimal agar keluaran amplifier menghasilkan tegangan output maksimal tapi tidak clipping. Sebenarnya mirip dengan mengukur penguatannya. Amplifier tidak memiliki standar input sensitivity. Tapi untuk home audio memiliki standar line level sebesar 0.316Vrms dan profesional audio sebesar 1.228Vrms. Bila input sensitivity nya kurang dari standar tersebut (perlu tegangan input yang lebih besar) maka diperlukan pre-amp.

6. Daya Amplifier
Adalah daya maksimum dari sebuah amplifier untuk mengerakkan speaker. Karena umumnya speaker impedansinya 8 dan 4 Ohm, maka pengukurannya dengan resistor daya 8 dan 4 Ohm sebagai beban. Cara pengukurannya dengan memberikan masukan sinyal sinus agar pada keluarannya tegangannya maksimal tapi tidak clipping. Hasil pengukurannya dalam Watt RMS, yaitu tegangan keluaran RMS dikuadratkan lalu bagi nilai resistor bebannya. Biasanya besar cacat sinyal keluarannya juga dicantumkan. Ada juga yang mencantumkan continues artinya tanpa batasan waktu amplifier tersebut tetap tidak masalah. Dan tidak continues artinya ada batasan waktu ketahanan amplifier tersebut. Ini biasanya berhubungan dengan kemampuan pendinginan (heatsink) dari amplifier tersebut.


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - djaedoel - 13-12-2013

absen sore menjelang malam sambil belajar :-)


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - samsianto - 13-12-2013

(13-12-2013, 06:01 PM)djaedoel Wrote: absen sore menjelang malam sambil belajar :-)

nyimak ~O) :-D saja,,, baru belajar :-??:-??


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - djaedoel - 14-12-2013

(13-12-2013, 08:22 PM)samsianto Wrote: nyimak ~O) :-D saja,,, baru belajar :-??:-??

absen pagi, login di solfegio + ~O) bikin tambah penasaran


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - bimo_tok - 22-12-2013

7. SMPTE IM
SMPTE intermodulation distortion adalah cara pengukuran cacat intermodulation yang dikembangkan oleh SMPTE dan biasanya dipakai pada produk video tape recorder. Kemudian standard ini juga diterima pada produk audio pada umumnya. Cara pengukurannya adalah dengan memberikan input sinyal sinus 60 Hz dan 7000 Hz dengan perbandingan level 4:1. Keluarannya diukur dengan THD Analyzer yang memiliki filter SMPTE atau memakai spectrum analyzer.

8. CCIF IM
Karena frekuensi audio mencapai frekuensi 20kHz, maka cacat pada frekuensi 20kHz juga penting. Namun jika dipakai pengukuran THD maka sinyal harmonik frekuensinya lebih tinggi lagi yaitu 40kHz, 60kHz, dst. Ini akan sulit untuk diukur. Untuk itu dikembangkan CCIF intermodulation distortion. Cara pengukurannya dengan memberikan input sinyal sinus 19kHz dan 20kHz dengan level 1:1. Pada output dihubungkan spektrum analyzer. Pada spektrum analyzer akan keluar frekuensi 1kHz, 2kHz, 3Khz dan seterusnya. Pada frekuensi tinggi akan keluar sinyal 21kHz, 22kHz, 23kHz dan seterusnya. Sinyal di bawah 19kHz yang diukur karena lebih mudah diamati dan tidak membutuhkan alat ukur yang memiliki bandwidth yang lebar.


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - kaboel sjk - 22-12-2013

siiippp di lanjut mas bimo ........8->8->8->


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - Prastyo - 22-12-2013

(13-12-2013, 10:30 AM)mas joe Wrote: yen setrum kan gak ketok mas, yg bener katanya mbah simo. hahahaaa.....

lah yen audio cacat banyak kan pastimkedengeran, koyo pita nglokor, tapi yen cacate 10% saya rasa gak kliatan, tp klo pln drop jadi 190vac saya rasa kliatan. heheee....

@mas joe cacat 10% audio dah kelihatan banget perbedaannya dng sinyal murni, apa lagi cuma memainkan 1 atau 2 frekuensi (tone) seperti yg mas @bimo_tok sebutkan diatas. InsyaAllah ntar aku upload contoh sinyal yang murni dengan yang cacat biar bisa dibandingkan.


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - cafemanado - 22-12-2013

Mas Bimo alangkah baiknya semua rangkuman di Post #1 saja biar bacanya gak perlu gulung2 kebawah...

Informasinya sangat bermanfaat buat pemula seperti saya mas, terima kasih yah ;-)


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - Prastyo - 22-12-2013

Sinyal 150Hz cacat sekitar 0,025%

.mp3   150Hz.mp3 (Size: 252.47 KB / Downloads: 11)

Sinyal 150Hz cacat sekitar 8,5%

.mp3   150Hz thd 8.5%.mp3 (Size: 248.19 KB / Downloads: 12)


RE: Beberapa Dasar Pengukuran Audio Amplifier - pespakoe - 22-12-2013

(22-12-2013, 07:55 PM)Prastyo Wrote: Sinyal 150Hz cacat sekitar 0,025%


Sinyal 150Hz cacat sekitar 8,5%

lumayan dapet ilmu baru lagi :bd