Solfegio Forum
Bad design di fill in yamaha - Printable Version

+- Solfegio Forum (https://solfegio.com)
+-- Forum: Instrument Musik (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=5)
+--- Forum: Keyboard (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=25)
+---- Forum: Yamaha (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=51)
+---- Thread: Bad design di fill in yamaha (/showthread.php?tid=238)

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10


- Bimo Saputro - 25-03-2011

ikut nyimak aja,bahasanya terlalu tinggi aku ngak ngerti,wkwkwk,kabur ah........


- VW music - 29-03-2011

@ Wisnu
Utk tahu kekurangan keyb kebanggan kita, syarat utamanya adalah kita hrs tahu dulu isi keyb merk lainnya, tanpa tahu isi keyb merk lainnya, gimana kita bs punya perbandingan?
Seperti yg saya sdh katakan di posting sebelumnya, entah di topik apa gitu.... saya setiap hr giat berlatih lari dan karena setiap hr berlatih maka saya merasa sdh paling cepat berlatihnya.... eh ternyata pas agustuan ada lomba lari, saya ikut lomba ternyata melawan anak tetangga saja saya kalah cepat larinya hehehe...

Buat tambahan lagi.......silahkan simak link berikut ini

INSTRUMENT ANDY.mp3 - File Shared from Box.net - Free Online File Storage

saat mendengarkan link tsb, cobalah pejamkan mata dan dengar dr awal sampai akhir.... apa bs mendengar aransemen yg aneh???? Kalau ada yg bs mendengarkan aransemen yg aneh maka berarti org tsb peka tapi kalau tdk bs mendengarkan aransemen yg aneh..... hhhmmmm geeellllaaappp aahh......

Dari test case ini kita bs tahu sebrp kemampuan kita tentang aransemen...

Just my humble opinion.... ini buat edukasi...  :)>-  :)>-  :)>-




- VW music - 29-03-2011

@ Wisnu
Utk tahu kekurangan keyb kebanggan kita, syarat utamanya adalah kita hrs tahu dulu isi keyb merk lainnya, tanpa tahu isi keyb merk lainnya, gimana kita bs punya perbandingan?
Seperti yg saya sdh katakan di posting sebelumnya, entah di topik apa gitu.... saya setiap hr giat berlatih lari dan karena setiap hr berlatih maka saya merasa sdh paling cepat berlatihnya.... eh ternyata pas agustuan ada lomba lari, saya ikut lomba ternyata melawan anak tetangga saja saya kalah cepat larinya hehehe...

Buat tambahan lagi.......silahkan simak link berikut ini

INSTRUMENT ANDY.mp3 - File Shared from Box.net - Free Online File Storage

saat mendengarkan link tsb, cobalah pejamkan mata dan dengar dr awal sampai akhir.... apa bs mendengar aransemen yg aneh???? Kalau ada yg bs mendengarkan aransemen yg aneh maka berarti org tsb peka tapi kalau tdk bs mendengarkan aransemen yg aneh..... hhhmmmm geeellllaaappp aahh......

Dari test case ini kita bs tahu sebrp kemampuan kita tentang aransemen...

Just my humble opinion.... ini buat edukasi...  :)>-  :)>-  :)>-




- Bimo Saputro - 29-03-2011

sy udah dengar pak,memang ada beberapa yg menurut sy janggal,menurut sy drumnya terlalu gimana gitu,terlalu soft menurt saya,kurang real(asli),kalau dengar musik aslinya live beda jauh,coba dengar lagu yg lainnya SHIMPHONY terus dengarkan pas rovel tak dum dum,terus pas masih di main A dentuman "tasss" nya tidak mencirikan drum asli,drum aslinya walaupun masuk studio musik suara drum ya gitu2 aja walaupun dibuat low di tambah efek nyicis,efek drum untuk house musc,efek elektronik efek kayak apa, drumnya tetep pas gitu  dan aransemen tsb menurut saya tidak real dan terkesan aneh,saya ngak bs menjelaskan secara teknisnya,hehehehehe,di e50 sy ada seabreg drumkit yang aneh2 dan bas2 aneh2 juga yang bener2 reall kayak lagu2 awal rekaman juadull seperti wedhesmara-kau selalu dihatiku,pertemuan bener2 mirip,tapi tetep mengikuti drum aslinya,hehehe,piss 4 all,IMHO


- Bimo Saputro - 29-03-2011

sy udah dengar pak,memang ada beberapa yg menurut sy janggal,menurut sy drumnya terlalu gimana gitu,terlalu soft menurt saya,kurang real(asli),kalau dengar musik aslinya live beda jauh,coba dengar lagu yg lainnya SHIMPHONY terus dengarkan pas rovel tak dum dum,terus pas masih di main A dentuman "tasss" nya tidak mencirikan drum asli,drum aslinya walaupun masuk studio musik suara drum ya gitu2 aja walaupun dibuat low di tambah efek nyicis,efek drum untuk house musc,efek elektronik efek kayak apa, drumnya tetep pas gitu  dan aransemen tsb menurut saya tidak real dan terkesan aneh,saya ngak bs menjelaskan secara teknisnya,hehehehehe,di e50 sy ada seabreg drumkit yang aneh2 dan bas2 aneh2 juga yang bener2 reall kayak lagu2 awal rekaman juadull seperti wedhesmara-kau selalu dihatiku,pertemuan bener2 mirip,tapi tetep mengikuti drum aslinya,hehehe,piss 4 all,IMHO


- Bimo Saputro - 30-03-2011

pas lagu NSTRUMET SAXOPHONE nya juga ada loncatan aransemen,baik main A pindah ke B main B ke C dan C ke D,SEMUANYA TERJADI LONCATAN aransemen,Di lagu shimphoni yang indah juga ada kejanggalan dari sepi mendadakan teken main C atau D juga rame,tahu kelemahannya setelah mendengarkan pake headpohone yang pake mega bass,terus klo pake spiker biasa ngak bakal ketemu karena tertutup suara bass dan sax nya,hehehehehehe


- Bimo Saputro - 30-03-2011

pas lagu NSTRUMET SAXOPHONE nya juga ada loncatan aransemen,baik main A pindah ke B main B ke C dan C ke D,SEMUANYA TERJADI LONCATAN aransemen,Di lagu shimphoni yang indah juga ada kejanggalan dari sepi mendadakan teken main C atau D juga rame,tahu kelemahannya setelah mendengarkan pake headpohone yang pake mega bass,terus klo pake spiker biasa ngak bakal ketemu karena tertutup suara bass dan sax nya,hehehehehehe


- ihutm - 04-04-2011

Suatu saat , sy pengen diskusi langsung untuk memanfaatkan Multiband processor dengan professor kita yg sangat pintar ini, sehingga sudah tidak ada lagi jalan keluar bagi beliau selain 'kesalahan' mutlak yg 'kebenarannya hanya dia sendiri yg menemukan diantara 9000 user didunia ini.

Lebih baik baca dulu deh apa arti multiband processor dan bagaimana cara kerjanya, jadi gak debat kusir... apa hubungannya dgn MP3 to MIDI? Nggak ada pak..... nggak usah makin ngawur!!


- l_ravale - 14-05-2011

Setelah sekian lama ditinggal ternyata topik ini belum ada SOLFERS yang kasih pendapat.
Baik deh di sini saya mau coba tanggapin lagi, sebatas yang saya tau.

@Pak Tjandra
Pertama, saya ingat2 rasa antusiasme saya untuk belajar soal dunia persilatan - eh, perkibotan - tumbuh justru setelah masuk ke forum kita ini (Thx to Lae Antoni Pasaribu/ ADMIN, kalo ini saya jujur salut sama Lae :-) ). jadi kata "menggurui" tidak pernah bermakna negatif dalam kamus saya.  :-)
Kedua, saya dah lupa maen quote, jadi saya coba jawab sebisa dan se-nyambung mungkin.
Ketiga, kesan negatif yang saya utarakan tempo hari sudah Bapak konfirmasi. Dengan demikian problem solved.

Begini:
1. Soal dynamic range
Di postingan sebelumnya saya tuliskan/ pertanyakan apakah karakteristik suara drum di genre Pop/ Ballad dengan Rock harus serupa feelnya, serta apakah ini menjadi peraturan wajib.
Dan sebagai jawabnya Bapak sarankan saya untuk ngejam atau dengarkan perform live seorang drummer dalam band dari dekat, untuk melihat apakah hentakannya seperti yang saya pikirkan.


Saya juga bisa main drum sedikit, dan sering diminta untuk menjadi additional player untuk band junior/ regenerasi kami di kampus. Ketika dulu band kami baru terbentuk, saya juga main dengan standar Bapak tadi koq. Ga ada bedanya antara Ballad sama Rock, bahkan ego/ keangkuhan saya sering kumat di atas panggung, sampai main headbanging segala.
Nah suatu ketika kami diminta main untuk ibadah yang sifatnya lebih ke meditatif, dan saya pakai cara yang sama (terlepas dari headbanging-nya). Saya ditegur sama penasehat kami, seorang alumnus yang memang mendalami musik gereja. Dia bilang begini: "Kalau seperti itunya cara-ndu (ndu = kamu, bahasa halus suku Karo) main dek, lebih baik Abang bikin dari Fruity Loops aja. Abang butuh orang yang mampu merasakan pesan lagu ini dek, bukan orang yang menguasai segudang skill. Jadi biarkan lagunya meresap ke hatimu".
Nah inilah yang membentuk karakter saya hingga sekarang, makanya dalam bermain drum maupun membuat song atau style saya lebih menyukai hentakan/ velocity yang kecil2 untuk Ballad (katakanlah untuk Var A dan B, semakin ke D semakin tinggi velocitynya). Saya memang tidak begitu memahami parameter lain selain velocity. Namun urusan velocity ini saya sangat concern, yah itu karena hasil dari pendidikan yang saya dapat.
Jadi dalam hal ini sudut pandang kita berseberangan Pak, dan saya sangat menghormati keberseberangan ini.

2. Soal wajib atau tidaknya drum kit tertentu untuk tiap genre.
Sesuai saran Bapak, saya periksa dan ternyata betul bahwa dalam beberapa style Ballad saja bisa beda2 drum kit nya, sementara kalau main live 'kan tidak mungkin seperti itu.

Saya jadi ingin tau apakah hanya Yamaha saja yang seperti ini. Dan di lain pihak saya pikir Bapak juga setuju bahwa keyboard merk apapun mencoba merangsang kreatifitas user dengan menghadirkan drum kit yang berbeda2 dalam setiap preset style-nya.
Trus kalau memang Bapak berpegang pada prinsip di atas, tentu Bapak akan menggunakan satu drum kit saja untuk membuat style apapun, misalnya yang saya perhatikan User Kit di KN7000 (tapi saya ga tau ya Pak apakah KN7000 yang saya pegang tu dah diedit) yang cenderung lebih real dibanding kit2 yang lain di KN tersebut.
Nah, dengan demikian siapapun yang mengikuti standart Bapak tentu akan melakukan hal yang sama. Dan untuk yang memilih jalan lain, akan bereksperimen menggunakan kit yang ada. Belum lagi seperti yang Bapak katakan kalau sudah masuk Sound System hasilnya bisa beda. Jika Drum Kit nya dirasa kurang sreg setelah di out, user bisa saja menggantinya.

3. Keyboard = Live Perform?
Tapi Pak (mohon maaf ini hanya pemikiran singkat dan penasaran saya pribadi), merujuk pada pendapat Bapak di mana kita membeli keyboard tujuannnya untuk menghadirkan musik yang seakan2 menghadirkan full band lengkap sehingga kita berharap sama dengan keyboard yg kita gunakan, maka saya sendiri tidak begitu berharap Pak.
Kenapa?
Karena justru merujuk pada tulisan Bapak di postingan sebelumnya, di mana out dari Keyboard hanya ada 2 yakni Mono atau Stereo kiri kanan. Saya membayangkan seandainya out nya ada 16 lubang menurut jumlah channel Midi yang 16 itu atau minimal 8 channel layaknya pada style , maka kita tinggal mengatur letak masing2 Ampli/ Speaker di atas panggung, untuk mensimulasikan suasana seolah2 berada di musik live. Tapi berhubung yang ada out nya cuma 2, kesan live hanya bisa saya dapatkan jika menggunakan Headphone dan mengandalkan pengaturan Panning, ke kiri atau ke kanan.
Mohon pencerahannya.

Tambahan (Minggu, 15 Mei 2011)
Sabtu kemarin saya mengikuti acara satu keluarga/ Marga. Mereka menyewa band, dan kebetulan mereka pakai keyboard. Saya denger2 permainannya, juga standard banged, bahkan untuk seorang sekelas Pak Tjandra atau Lae Antoni bisa dibikinkan stylenya dengan mudah. Kalau permainannya seperti itu saya pikir ngapain mahal2 nyewa 1 band lengkap? Trus waktu giliran personil2nya makan, ada anggota mereka yang mainkan style di keyboard tadi, dan rasanya memang berbeda.


4. Soal Multiband Procesor
Ini mungkin sejalan dengan nomor 3 di atas, karena sumber suara sudah menyatu. Dengan demikian saya tidak tahu apakah saya masih bisa berharap mendapatkan kesan live seperti yang Bapak utarakan? Mengenai ini pun timbul rasa penasaran saya untuk berbincang bersama Bang Ihut. Mungkin waktunya saja yang belum dapet, tapi nanti kalau jadi jumpa tentu Bang Ihut mau berbagi ilmu dengan saya, biar saya yang posting nantinya. (Ate Bang?  :D )

5. Topik utama: Bad design di fill in ketukan pertama
Saya sudah buktikan temuan Bapak, memang kalau fill in ditekan di ketukan kedua, maka hanya drum nya yang jalan, sementara track lain tetap pada Variation/ Main yang aktif.

Nah, andai saya katakan solusinya dengan meniru jawaban Bapak soal fill di Keyboard lain yang saya sebutkan sebelumnya, maka dengan mudahnya saya ‘kan bisa bilang:"Mangkenye hindari dong menekan di ketukan tersebut". Tentu kalimat ini kurang puas kita menerimanya.
Selain itu timbul pertanyaan: Apa iya kita benar2 bisa menekan fill precisely di ketukan pertama sehingga semua track nya betul2 track fill tersebut yang jalan? Apalagi saat live, apalagi saat pindah Bar? Secara tangan kanan sibuk bermain melody? Atau dengan kata lain, bisakah kita benar2 menghindari "cacat" ini saat menekan Fill?
Jawabnya:[size=14pt]BISA[/size], walau tidak benar2 pas di ketukan pertama. Tapi asalkan belum masuk di ketukan kedua, semua track pada fill benar2 berjalan. Saya sendiri sudah coba pada tempo 130, menekan fill sambil pindah Bar hanya dengan tangan kiri, dan bisa. So silakan rekan2 SOLFERS yang lain mencobanya

Tapi izinkan saya melihatnya dari sisi lain: Kalau Bapak melihat ini sebagai cacat design, saya jadi penasaran: Apakah cacat ini bisa kita jadikan peluang?

Contohnya begini:
Katakanlah saya sudah membiasakan diri dan terlatih menggunakan teknik fiil in yang meniru Rolad sebagaimana video yang Bapak tunjukkan, dari Main B menekan fill B dulu sebelum pindah ke Main C. Dalam style Ballad buatan saya tersebut, Main A dan B masih sepi, serta Main C dan D semakin rame.
Seandainya Yamaha telah mengikuti saran dari Bapak (yakni pada ketukan berapapun yang ditekan, track di fill jalan semuanya). Misalnya kita buat fill dengan komposisi yang unik, yang secara aransemen lumayan jauh beda dengan Main asalnya di B maupun Main yang dituju di C, katakanlah kita sisipkan permainan Distortion Gitar dalam fill tersebut, atau yang lain2 nya terserah deh. Bayangkan seandainya kita Fill di ketukan ketiga, maka Main B yang sebelumnya sepi tiba2 melonjak menjadi rame di ketukan ketiga tersebut. Bukankah ini yang malah bikin cacat?
Jika dihubungkan ke design Yamaha ini, maka saya melihat “cacad” ini justru menjadi peluang. Di mana berdasarkan apa yang saya pikirkan di atas maka dengan demikian Yamaha mempunyai 2 Fill untuk masing2 Main/ Var nya, yang satu hanya track drum nya saja, yang satu lagi Fill yang betul2 full track.Jangan2 Yamaha memang sengaja mendesign sedemikian rupa dengan tujuan ini. Belum lagi yang saya lihat di lapangan banyak pembuat style yang hanya membuat track drum untuk fill nya, sementara track lain tinggal dikopi dari Main/ Var yang ada. Jika benar demikian, maka saya pikir ini justru membuat Yamaha menjadi unik, dan meminjam bahasa Bang Kortal Nadeak, produk yang unik, ini yang di cari orang.

6. Soal lonjakan Aransemen
Sebagaimana yang saya katakan di atas, saya mengikuti dan mulai terbiasa dengan versi Bapak, yakni saat hendak pindah Main/ Var, tekanlah Fill dari Main asalnya bukan dari Main yang dituju. Saya pikir Yamaha kelas manapun baik yang Premium maupun menengah kebawah (sebagaimana yang yang Bapak tuliskan warna Hijau, Bold pula, dan [size=24pt][color=limegreen]Besar[/size] pula, waah saya salut Bapak punya psychic power untuk mengetahui kalau saya hanya pakai kelas premium, hehe… Tenang Pak saya juga sering koq megang Yamaha low-end), sekalipun cuma ada 2 Main/ Var, selama memiliki tombolnya sendiri2 hal ini memungkinkan untuk dilakukan. Yang sulit adalah jika kita berjumpa dengan Yamaha low-end (seri berapa saya lupa), yang hanya punya satu tombol tunggal untuk mewakili Main A/B beserta fillnya, karena ketika kita di Main A lalu menekan fill maka yang hidup adalah Fill B lalu pindah ke B. (Untuk Main A fill ke Main A, maka kita harus tekan tombol tersebut 2x, intinya dua kali kerja).

Terlepas dari hal itu, saya rasa tidak ada salahnya kalau sesekali ada lonjakan, karena bagi saya memberi unsur kejutan dalam membuat lagu justru memberi kesan tersendiri dalam bermusik.

Begitulah yang saya pikirkan.


- l_ravale - 14-05-2011

7. Perenungan Saya/ Lain2:
a. Musik: Bebas, atau Wajib? Mitos atau Pilihan Selera?
Saya jadi merenung sendiri, apakah dalam bermusik kita mempunyai banyak pilihan, atau harus dipagari sejumlah peraturan wajib? Setelah saya melihat ternyata ada perbedaan sudut pandang dalam hal ini misalnya, bahkan sampai adanya misi untuk mematahkan mitos, saya jadi bertanya2, apakah ini Mitos, atau sekedar Pilihan Selera?

b. Cacat atau Keunikan? Hambatan atau Peluang?
Sepertinya ada banyak “cacat” di Yamaha yang bisa kita akalin justru menjadi bumbu penyedap dalam dunia Perkibotan. Misalnya saja cacat di Chord 7 kan bisa dibetulin di bagian Parameter. Kita bisa set root chordnya menjadi C maj. Dan merujuk pada tulisan Lae ADMIN soal Chord CM7, maka ini menjadi keunikan di mana salah satu track kita setting Chord M7, sementara track lain cuek z di C maj. Nah kalau Fill nya cuma mentok 1 bar, kita bisa buatkan fill nya di tombol Intro saja, sementara di Fill tersebut kita samakan saja dengan Main asalnya. Dan mungkin masih ada temuan2 lain yang bisa kita manfaatkan. Nah sekali lagi, ini cacat atau keunikan? hambatan atau peluang?

c. Pilih song atau style?
Yah kalau memang sudah begitu situasi di pasaran mau bilang apalagi Pak? Saya pikir penyebabnya tak lain adalah karena lagu2 yang beredar sekarang (Katakanlah mulai zaman Ian Keselek a.k.a Raja) cenderung lagu2 yang musiman, ketika habis masanya, yah akhirnya menjadi another abandonia, ditinggalkan. Keuntungannya memang play otomatis, namun kekurangannya jika si penyanyi ga tau lagunya mau diulangi dari mana atau bait berapa. Mau g mau kita terima kenyataan ini Pak, tapi kiranya Bapak tidak bosan berkarya maupun menjelaskan hal ini pada pelanggan Bapak.

d. Mencerahkan: Gembala atau Hakim? Memotivasi atau Menjatuhkan?
Terimakasih bahwa Bapak bermaksud untuk mencerahkan dalam setiap tulisan yang Bapak buat. Namun sekali lagi mohon maaf Pak, saya lihat2 lagi katakanlah khusus di topik ini saja koq rasa2nya Bapak tidak ada memberikan satupun saran yang membangun sama sekali? Yang ada malah setiap usul yang saya tuliskan mendapat komentar yang bernada pesimistis, butir demi butir. Ini susah lah, repot lah, tidak semua yang tau lah, implementasinya tidak mudah lah, dsb. Atau tindakan lain dari rekan lain seperti nyelonong2 trus bilang “Yamaha zaman nabi Adam sampai Parousia tetap suara saja suara kaleng”, trus sebelum kabur diakhiri dengan IMHO, no hard feelings, dsb. Secara indikatif (edukatif?) Bapak sudah jelaskan ini loh bad design Yamaha, namun kalau dah begini ceritanya rasa2nya saya tidak menemukan pesan imperatif lain dari Bapak selain "Tinggalkan Yamaha". Saya pikir ini justru tindakan yang tidak membangun dalam suatu forum. Sayang sekali Pak, ini sungguh suatu respon yang jauh dari ekspektasi saya, yang saya harapkan terucap dari seorang senior se-senior Pak Tjandra.

Atau, mari kita buat diskusi ini lebih mudah. Bolehkah Bapak bagikan Style “Tak Gendong” yang Bapak katakan gubrak2 itu? Ajarin kami Pak, apa2 saja yang Bapak edit di situ? Biar nanti saya jadiin pedoman kalau pengen bikin style yang menghentak, yah minimal mendekati live lah.

e. Realism Oriented atau Composition Oriented?
Salah satu major issue dalam membicarakan Yamaha adalah persoalan suaranya real atau tidak real. Di awal tulisan saya katakan kalau sudah begiru geregetan pengen sound yang real, maka Sound Sample (untuk keyboard yang sudah kompatible) mungkin menjadi solusi. Hanya, lagi2 Bapak katakan implementasinya susah, tanpa pernah menyumbangkan  sedikit tulisan soal itu kepada para solfers (Padahal itu yang saya tunggu2 dari Pak Tjandra, jika memang seperti yang Bapak katakan, demi alasan edukasi).

Saya ga bisa komentar banyak tentang hal ini, karena pengetahuan saya pun masih ancur2an, tapi di sini saya kutip sedikit tulisan Lae Antoni Pasaribu sebagai gambaran untuk kita:
Antoni Pasaribu link=topic=5132.msg80929#msg80929 date=1304162983 Wrote:kuncinya : OPTIMALISASI

Saya sudah coba berbagai macam keyboard, dan ga ada satupun yang benar-benar bikin saya puas.
Semuanya ada kelebihan dan kekurangan.

Tapi kl selalu melihat ke sisi kekurangan, yaaahhhhhhhhh ga bakal pernah ketemu kelebihannya.
Saya bikin beberapa video dengan Yamaha (kebetulan ada Yamaha milik pemerintahan yg parkir di rumah saya) cuma mau menunjukkan beberapa optimasi yang bisa saya lakukan (kl ada casio, saya juga akan coba).
Contohnya dari style dangdut yg saya buat dan mainkan tersebut, yg bikin saya kaget, malah banyak yg "surprised" dengan sounds yang saya mainkan  :-?? baik sound sulingnya, gitarnya, strings sampe ke stylenya. berarti, banyak yg belum optimal memanfaatkan PSR miliknya.
Kalo belum mengoptimalkan, jangan dulu menyudutkan sisi kelemahannya.

Kalau mau fair, tanpa utak atik sana sini, tanpa edit ini itu, dari berbagai merk keyboard yg selevel, Yamaha PSR berani saya kategorikan yang TERBAIK & TERMUDAH untuk diaplikasikan dalam kondisi live.
Tapi karna parameternya Dangdut, keyboard manapun ga ada yg bagus :))

Kenapa???
Karna dari Indonesianya sendiri (mungkin) tidak merekomendasikan sound yang dibutuhkan Indonesia kepada pabrikan keyboard. atau memang pabrikannya yg tidak mengabulkan permintaan dari Indonesia.
Mau bilang KORG yg terbaik untuk Dangdut??
Yg kita dengar di Korg itu, bunyi tabla, bukan bunyi gendang dangdut yg biasa dimainkan di pentas2 dangdut.

Technics untuk dangdut????
Ahhhhhhh bohonngggg :))
Sampe sekarang, setelah saya coba dan dengar2 dari editan teman-teman, tidak ada yang benar2 berbunyi gendang dangdut.

Roland, Yamaha, Casio???
Yang drumnya bisa di edit aja ga nemu, apalagi kl keyboardnya ga punya drum edit  :))

Jadi, yang terjadi cuma : PENDEKATAN KARAKTER ke posisi yang diinginkan.
Technics dan Korg yg paling mendekati??? bisa jadi, tapi apakah pernah melihat sisi lain saat proses pembuatannya? RIBETTTTTTTT...... MENGHABISKAN WAKTUUUUUU..........PUSING,,,,,,,, ~X(
Hanya membuat bunyi TAK dan DUT yang lumayan mendekati aja, bisa menghabiskan waktu berjam-jam (bersyukurlah bagi kawan2 yang cuma mendownload & ga pernah bikin/share).
Semuanya setimpal.
Mau mendekati, ada konsekuensi waktu, konsentrasi, dan referensi yang harus disiapkan.
mau sederhana tanpa mendekati suara seperti aslinya, berarti harus pintar-pintar memuaskan diri dengan yg didengarkan  :D

Terlepas dari yang saya tulis di atas, di bagian final, kita kembalikan ke AUDIENCE (mayoritas).
Apakan audience (awam) mayoritas benar2 pernah protes kalo suaranya ga seperti alat-alat aslinya?
sepengalaman saya : TIDAK PERNAH.
Yang paling penting adalah : KOMPOSISI STYLEnya.  \m/
Yang dangdut, benar2 komposisi dangdut, sehingga yang menyanyikan dengan diiringi style tersebut, benar2 merasakan feel dangdut.
Mau bunyi TAK-nya seperti kaleng, ember, gelas, besi, ga pernah masalah tuhhhh.

Tapi kl soundnya udah mirip sama gendang asli, tapi pukulan gendangnya ga seperti bermain dangdut, sama aja bohong  \m/
dan yang ga kalah pentingnya : TINGKATKAN SKILL BERMAIN KEYBOARDnya  :D


e. Bersyukur dalam proses pembelajaran yang lambat.
Saya sudah dengarkan contoh MP3 yang Bapak kasih, dan jujur dengan kemampuan yang begitu terbatas saya kurang mampu mendeteksi aransemen aneh yang Bapak maksudkan, barulah setelah membaca tulisan Bimo saya menemukannya. Tapi setelah saya renungkan saya jadi bersyukur dengan keterbatasan wawasan saya ini. Selama ada kemauan untuk belajar, tidak masalah. Soalnya, jika seandainya Tuhan memberi wawasan tinggi soal musik atau memasukkan saya ke sekolah musik dan bukannya seperti saya yang sekarang, jangan2 saya terjerumus – dan menghabiskan hidup saya – dengan menganalisa kekurangan dan cacat pada setiap lagu, tanpa pernah bisa menikmatinya.
Begitulah yang saya renungkan.