Solfegio Forum
Power Megatech - Printable Version

+- Solfegio Forum (https://solfegio.com)
+-- Forum: Sound System (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=4)
+--- Forum: Power Amplifier (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=21)
+--- Thread: Power Megatech (/showthread.php?tid=11913)

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10


Balasan: Power Megatech - Amy_Nur - 27-06-2014

@RudiPas sekilas nampak sama tp ada perbedaan di karakter suara Mega lebih cling yiro lebih tebal dan berbobot..........


RE: Power Megatech - bimo_tok - 27-06-2014

(09-01-2013, 04:34 PM)nafiri Wrote: input sinus 1v 1khz beban 4ohm
supply +- 90V

AC analisis
gain 40db (100v) (tidak kebesaran?)
response frekuensi -3db
2hz - 11.4 khz

Kalau -3dB nya hanya sampai 11.4 kHz berarti yang merancang ampli ini ngawur :xx
Frekuensi audio dari 20 Hz sampai 20 kHz. Sedangkan yang disimulasiin kang Nafiri itu respon frekuensi sinyal kecil. Kalau respon frekuensi full power bisa jauh lebih kecil dari itu.
Agaknya yang merancang ampli ini perlu di training dulu sama kang Nafiri.


Balasan: Power Megatech - Boedy - 07-07-2014

Sundul lagi.. Biar sejajar,,.


Balasan: Power Megatech - imronhabibi - 08-07-2014

dari beberapa post yg saya lihat di forum ini, ampli yg didesain dengan benar kebanyakan berkarakter flat, sedang yg dimodif asal-asalan untuk menonjolkan karakter tertentu (bass/mid/high) cenderung memiliki cacat jika disimulasi. kenapa seperti itu mas @bimo_tok ?


RE: Power Megatech - bimo_tok - 08-07-2014

(08-07-2014, 07:41 AM)imronhabibi Wrote: dari beberapa post yg saya lihat di forum ini, ampli yg didesain dengan benar kebanyakan berkarakter flat, sedang yg dimodif asal-asalan untuk menonjolkan karakter tertentu (bass/mid/high) cenderung memiliki cacat jika disimulasi. kenapa seperti itu

Karena banyak yg modif asal gatuk, alias coba2 saja dengan mendengarkan saja hasilnya tanpa diukur.

Tanpa simulasi sebenarnya bisa saja, tapi harus memiliki alat ukur lengkap, Distortion Meter, S/N Meter, Signal Generator dengan cacat yang rendah, dan sebagainya.

Jika hanya mengandalkan telinga, misalnya yang modif telinga ngga sensitif dgn frekuensi tinggi atau ngga tahu suara yang cacat tinggi atau yang rendah itu seperti apa. Yang dipakai untuk test dengar rekamannya jelek kualitasnya, playernya jelek kualitasnya. Speaker yang dipakai jelek kualitasnya. Pokoknya kombinasi dari sebab2 diatas.

Amplifier yang ideal, semakin bagus speaker yang digunakan semakin akurat suaranya.

Simulasi sebenarnya hanya untuk mempercepat disain saja. Kalau simulasinya benar, maka sekitar 90% kemungkinan rangkaian berfungsi. Namun perfomanya belum tentu mendekati hasil simulasi. Ini masih tergantung dari tata letak komponen dan disain PCB, pemilihan tipe komponen. Jika pemilihan komponen tepat dan tata letak komponen dan disain PCB mengikuti kaidah-kaidah engineering maka hasil pengukuran bisa dekat sekali dengan hasil simulasi.

Kalau buat profesional cara kerjanya seperti ini:
1. Simulasi
2. Bikin Prototype
3. Ukur spesifikasi
4. Modifikasi sampai didapatkan target spesifikasi yang diharapkan
5. Bikin prototype lagi untuk produksi masal
6. Ukur spesifikasi
7. Jika belum memenuhi target, maka target diturunkan atau kembali ke no. 4
8. Produksi masal

Saat produksi masal, perbaikan masih terus dilakukan sampai produksi masal tersebut selesai.


Balasan: Power Megatech - imronhabibi - 08-07-2014

wah rumit sekali ya,,,

satu lagi mas @bimo_tok teman saya barusan beli ampli BU (berisi 4 chanel) direncanakan untuk menghandel 1 set 4 way, nah ternyata ampli tersebut untuk sub tendangan bassnya malah kalah sama ampli rakitan. (maaf karena saya gak bisa bedakan cacat suaranya dimana). apakah ampli untuk sub memang ada tersendiri, dengan kode-kode tertentu misalnya


RE: Power Megatech - bimo_tok - 08-07-2014

(08-07-2014, 03:12 PM)imronhabibi Wrote: wah rumit sekali ya,,,

teman saya barusan beli ampli BU (berisi 4 chanel) direncanakan untuk menghandel 1 set 4 way, nah ternyata ampli tersebut untuk sub tendangan bassnya malah kalah sama ampli rakitan. (maaf karena saya gak bisa bedakan cacat suaranya dimana). apakah ampli untuk sub memang ada tersendiri, dengan kode-kode tertentu misalnya

Umumnya lebih susah mendeteksi cacat pada frekuensi rendah daripada frekuensi tinggi. Kebenyakan amplifier yang "salah" disain cacat frekuensi rendahnya cukup kecil tapi cacat frekuensi tinggi umumnya sanga tinggi.
Untuk membandingkan kedua amplifier tersebut secara lebih fair, lakukan cara berikut:
Bikin saklar yang bisa men-switch sinyal input dan output nya. Jadi kita bisa memilih amplifier yang berbeda dengan sumber sinyal yang sama dan speaker yang sama. Lalu atur volume kedua amplifier tersebut sama kencang suaranya (daya yang ke speaker sama besar).
Pilih lagu yang instrumen nada rendahnya pernah kita dengar secara langsung tanpa sound system. Bandingkan amplifier mana yang suara paling mendekati suara asli insturmen tersebut.
Perhatikan attack time (saat instrumen dipukul atau dipetik atau ditiup), perhatikan release time atau buntut suaranya.

Tanpa perbandingan dengan instrumen yang asli jatuhnya ke selera. Seringkali kita lebih suka suaranya tidak seperti aslinya (cacat). Misalnya gitar listrik lebih enak dibikin cacat.

Jadi intinya bukan suka atau tidak suka, tapi seberapa akurat dibandingkan dengan suara aslinya. Alat untuk memodifikasi suara bukan di amplifier tapi di audio processor, kecuali amplifier untuk instrumen musik seperti amplifier gitar.


Balasan: Power Megatech - imronhabibi - 08-07-2014

baik mas bimo sedikit dimengerti,, karena masih banyak hal yg belum saya mengerti tentang amplifier


Balasan: Power Megatech - gantex - 08-07-2014

ternyata masih diperdebatkan juga :-D

hanya sedikit menambah saja dari point yg dikatakan kang bimo, banyak faktor sebenarnya tapi yg pasti mp3 atau hasil rekaman sebenarnya terpisah sesuai dengan frek dan memiliki trek masing2 bukan bercampur aduk, hanya dikemas dalam satu jalur dan bukan dicampur aduk.

kalo dijumpai suatu amp memutar mp3 "kwalitas bagus" suara yg dihasilkan bercampur aduk detail sekecil apapun tidak jelas atau suara berubah dari aslinya bahkan nada tinggi menyakitkan telinga bagi orang yg mendengar sudah dapat dipastikan kalau amp tersebut dibuat asal - asalan tanpa memperhatikan respon dan lebar jalur frek yg ada.

ada kalanya karena itu suara cacat dalam artian paling minim suara bercampur aduk, misal yg suara cis jadi cres yg ting jadi teng atau suara seretan gitar yg lembut jadi tidak terdengar itu karena adanya perpotongan frek dan karena lebar frek terlalu sempit untuk nada - nada tersebut.


Balasan: Power Megatech - zia - 09-07-2014

Memang untuk rata2 konsumen indonesia, respons flat tidak disukai dibanding dengan respon yang boost pada frekuensi rendah.
Bahasa mudahnya , ampli flat tidak enak buat dangdutan.
Bahasa pasarnya, Coba bandingkan compo sony dan polytron (level sama). compo polytron akan lebih ngebass dan enak buat dangdutan daripada sony.
Ya itulah rata2 telinga indonesia, memiliki karakter sendiri. Bass dan treble harus kenceng, middle ditekan.
Mengenai distorsi, rata2 telinga indo lebih kebal/toleran terhadap cacat...hihi..jadi PA yang "ngawur" pun masih bisa acceptable. Yang penting bisa dug ces dug ces, distorsi belakangan hihi..