![]() |
|
Seni: Pengetahuan, Ketrampilan, Kepekaan, Teknologi dan Moral yang Terintegrasi - Printable Version +- Solfegio Forum (https://solfegio.com) +-- Forum: Diskusi Umum (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=6) +--- Forum: Musik Tradisional (https://solfegio.com/forumdisplay.php?fid=34) +--- Thread: Seni: Pengetahuan, Ketrampilan, Kepekaan, Teknologi dan Moral yang Terintegrasi (/showthread.php?tid=104) Pages:
1
2
|
- arie abimanyu - 26-08-2010 Pidato Guru Besar ISI SURAKARTA: Prof. DR. Sri Hastanto, S.Kar Semoga kita dapat menggunakan akal sehat dan kebebasan belajar secara positif sehingga Bangsa Indonesia nantinya mempunyai sumber daya manusia di bidang kesenian yang cukup tangguh. Bila hal itu terjadi saya percaya bangsa ini akan kembali harum di mata dunia seperti yang pernah terjadi pada awal abad lalu, Indonesia mendapat predikat Nation Of The High Culture. Saya merasakan kemerosotan kualitas kehidupan (quality of live) kita karena bangsa ini mengabaikan budaya milik sendiri, banyak yang silau kepada budaya barat yang akhirnya tergiur dan tersesat didalam budaya yang tidak dipahami secara mendalam. Akibatnya banyak diantara kita yang menjadi gelandangan budaya atau culture homeless. Meninggalkan budaya sendiri dan tidak dapat tuntas masuk ke budaya barat karena tidak mempunyai etos kerja yang sesuai dengan budaya baru mereka kenal kulitnya saja itu. Peristiwa ini terjadi karena kebodohan kita yang tidak membangun pengganti sistem transfer nilai dari generasi ke generasi seperti yang dilakukan oleh masyarakat berbudaya tradisi. Sehingga generasi yang lebih muda makin lama makin tidak mengenal betapa tinggi nilai-nilai yang terdapat di dalam tradisi kebudayaan kita sendiri. Kesalahan itu sistem itu membuahkan dampak yang menganggap budaya kita kuno tidak “njaman” dan pantas dicampakkan. Mereka silau dan lebih menghargai kebudayaan barat yang kelihatannya gemerlapan. Tapi karena hanya kulitnya saja yang mereka ketahui maka mereka menjadi manusia-manusia yang tidak mempunyai tata nilai yang jelas, yang juga tidak mempunyai identitas atau jatidiri yang jelas pula. Kelompok ini yang belum sadar akan memandang remeh kepada mereka yang menggumuli budaya tradisinya. “Mau jadi apa dia? Mau jadi panjak?, Mau jadi ledhek? Mau jadi pengamen jalanan?. Tetapi mereka yang sudah terbuka matanya menyesal sejadi-jadinya karena ia menyadari bahwa mereka adalah orang Indonesia yang bukan Indonesia lagi, karena sudah kehilangan keindonesiaannya, dan juga bukan orang modern (barat) sebab didalam dirinya tidak mempunyai etos kerja yang memadahi. Situasi itu sering menggiring mereka mencari jalan pintas yang tidak halal. Tokoh-tokohnya yang mendalami budaya tradisi dengan tekun dan cerdas menjadi tokoh-tokoh modern yang disegani masyarakat dunia, semuanya menjadi tokoh internasional yang terpandang. Tetapi hal itu tidak gampang. Kehidupan kita harus tertata rapi dalam mengumpulkan bekal untuk menjadi pakar seni yang mendunia. Hal itu harus kita mulai dari kesadaran kita sebagai insan. Orang awam selalu menganggap seni identik dengan kesenangan atau hiburan. Jadi kalu diantara kita ada yang menganggap demikian, maka kita adalah orang awam di bidang seni yang harus merubah maindset kita 180° mulai dari sekarang. Seni adalah karya manusia yang berupa olahan media yang dapat memancarkan rasa estetis atau keindahan. Keindahan tidak mesti harus harus hal-hal yang menyenangkan tetapi sesuatu yang dapat memperkaya pengalaman jiwa manusia. Misalnya kalau seseorang melihat kemiskinan sesama tidak tersentuh haitnya, setelah menghayati karya seni tertentu dan berulang-ulang hatinya menjadi lebih peka dan tersentuh, maka pengalaman jiwa orang itu sudah bertambah kaya berkat karya seni. Peristiwa itu merupakan dampak kehidupan dalam arti luas. Tumbuhnya cinta kasih terhadap sesama makhluk adalah keindahan yang tertinggi yang berproses mempengaruhi jiwa manusia, sebab cinta kasih terhadap sesama umat Tuhan adalah ajaran utama dari Tuhan. Dalam kata lain keindahan tertinggi adalah rasa yang dapat makin mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi kita harus sadar bahwa estetika seni bukan satu-satunya wahana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Yang kita bicarakan ini adalah tingkat tertinggi daya kekuatan pancaran artistik. Tetntu saja banyak banyak tingkatan yang berada di lapisan bawahnya sampai dengan karya seni yang dapat membuat hati kita senang, atau tertawa lepas tanpa beban. Senang dan bisa tertawa lepas merupakan indikasi bahwa jiwa kita diberi pengalaman baru sehingga pengalaman itu makin kaya. Makin kaya pengalaman jiwanya, membuat rasa kemananusian seseorang makin tinggi, perasaanya semakin peka, sehingga orang itu dapat disebut mempunyai kulitas hidup yang tinggi. Maka seni sering disebut dapat memanusiakan manusia. Tetapi hanya karya seni yang bermutu saja yang dapat membuat manusia semakin berkualitas hidupnya. Kalau ada karya seni yang secara teknis hebat daya pancar ekspresinya luar biasa, tetapi membawa muatan negatif, sehingga orang yang menghayati menjadi merosot kualitas hidupnya, misalnya menjadi cabul, kejam, mau menang sendiri dan perangai jelek lainnya maka bila kita menggunakan parameter di atas (dampak yang makin mendekatkan manusia dengan Tuhan) maka seni yang memerosotkan kualitas hidup manusia itu dianggap tidak bermutu. Kita harus berhati-hati, sebab di dunia ini selalu ada kubu yang berlawanan. Demikian pula di dalam seni, ada yang beraliran dan menganggap semua hasil ekspresi merupakan nilai tinggi dari sebuah seni tidak peduli dampaknya terhadap kejiwaan manusia, apakah penghayatnya menjadi brutal, cabul dan sebagainya. Dilain pihak hanya ekspresi estetik yang berdampak positif saja yang dianggap karya seni bermutu. - mei_a_hwa - 28-08-2010 aku sebagai orang jawa...justru kecewa dengan anak muda sekarang yang tergiru dengan gemerlap dunia yang sebetulnya berisi kegelapan aku sendiri menyadari . saya juga banyak kekurangan terutama dalam kebudayaan tapi setidaknya saya tidak tergiur oleh gemerlap dunia barat...kita sebagai orang timur..seharusnya memegang teguh adat dan tradisi kita..karena itulah identitas kita..ORANG TIMUR. tapi anak muda sekarang udah kehilangan TATANAN HIDUP ORANG TIMUR misal aja...orang muda sudah ga bisa sopan santun (walau emang ada yang bisa sopan santun) dengan orang yang lebih dewasa... ini contoh kecil selain itu...penilaian terhadap seni bagi pemuda sekarang adalah sebuah ke-KUNO-an..lebih2 pada seni wilayahnya sendiri...padahal dengan seni...(dengan penjiwaan) maka akan membuat orang akaj lebih halus dalam bertutur...(walau kadang kasar, mungkin karena terlalu DONGKOL) ah aku ngomong apa sih........ - soerdjanto - 28-08-2010 mei_a_hwa link=topic=110.msg549#msg549 date=1282932018 Wrote:ah aku ngomong apa sih........ ter serah mas mo ngomong apa. yg pnting msih pada jalurnya. emang bener kq sekarang da pada edan manusianya - mei_a_hwa - 28-08-2010 lah komennta mana mas soer - bayoex - 29-08-2010 kalau melihat topik yang di bicarakan luas ini ya ? :) tapi bolehkan saya berpendapat sedikit, meskipun sebenarnya saya belom "nyampek" kalau membicarakan masalah Budaya. masing - masing individu pasti punya latar budaya masing - masing, di mulai dari tatanan dalam keluarga / aturan dan pandangan keluarga mereka. Keluar dari budaya keluarga mereka secara tidak langsung di tuntut menjunjung / menghormati kebiasaan atau budaya (Budaya Daerah) dimana mereka tinggal dan menghormati pula Budaya daerah lain. Indonesia begitu banyak Suku, Agama, Bahasa, Kepercayaan, Adat & Budaya sendiri - sendiri, Bahkan kita punya sejarah panjang yang penuh dengan hal ini, mulai Kerajaan Kutai, Sriwijaya, Mataram & yang paling "TOP" Majapahit :) Meski kita tidak merasakan kehidupan kerajaan di atas maupun jaman perjuangan Kemerdekaan, tapi kita tetap bangga dengan sejarah Bangsa Indonesia dengan segala yang terkandung di dalamnya. termasuk saya ;) Saya Ambil contoh pribadi, Saya kebetulan di lahirkan dari keluarga Jawa ( entah Demak Bintoro / Mataram :D ) sekarang mencari sesuap nasi di Denpasar, yang tentu berbeda Adat, Bahasa, Budaya, bahkan Agama. Dan mengutip peribahasa "Dimana Bumi di pijak, di situ langit di junjung" tentu saya akan menghormati Adat Budaya dan semuanya di mana saya tinggal sekarang. Tidak hanya itu, kita juga harus Menghormati semua budaya apapun itu di dunia ini, banyak teman dari Nusa Tenggara Timur, dulu sebelum saya mengenal mereka saya kira cuma satu Bahasa, tapi ternyata beda Kabupaten saja sudah beda Bahasa dan Adat masing - masing. contoh : Kab. Manggarai, Ende, Wakabubak / Waingapu dll yang kesemuanya satu Propinsi memiliki akar Budaya masing - masing. Almarhum Bpk. Gesang begitu di kenal oleh masyarakat Jepang karena lagu Bengawan Solo Beliau, wisatawan Asing belajar gamelan Jawa / Bali, belajar Budaya Bali dll. Jadi kita sadar mereka menghormati Budaya kita & sebaliknya kita secara tak langsung menghormati Budaya mereka, Jadi menurut saya inti dari hidup rukun memang saling Menghormati & menghargai satu sama lain, entah itu Agama, Bahasa, Adat dsb. Kalau semua manusia saling Menghormati di dunia ini Aman & Damai :D itu saja mungkin pandangan sempit dari saya, semua Negara di Dunia punya budaya & Indonesia Juga Banyak akan Kebudayaan, kaya akan musik tradisional :) - arie abimanyu - 29-08-2010 Kalian ingat lagu "Rasa Sayange", kesenian "Reog Ponorogo", dan saya ingat gonjang ganjing dua hal itu. Kalian mungkin masih ingat juga apa yang terjadi dengan dua hal itu. Indonesia sempat memanas, rakyat mulai marah kembali, berapa hujatan, umpatan dan nada-nada keji lain yang mereka lontarkan kepada bangsa yang notabene serumpun itu, mengklaim sesuatu yang kita "miliki". Setiap orang meresa seperti kehilangan, terinjak harga dirinya dan lebih dari itu kata perang tidak segan-segan mereka ucapkan lagi, hanya membela sesuatu yang mereka anggap mereka "memilikinya", seolah pengertian apapun tak dapat membendung rasa "kepedulian" mereka dengan apa yang "dimilikinya. Fenomena yang menarik, terjadi perubahan total secara tiba-tiba pada masyarakat kita. Sebenci-bencinya itu aku lebih suka menganggapnya itu adalah sebuah pelajaran bagi kita. Itu adalah sebuah palu kecil yang mengetak kepala kita, supaya kita segera bangun dan tersadar. Sungguh ironis kalau kita mengaku itu milik kita tetapi di sisi lain kita enggan dan malu mengakuinya. Ijinkan saya untuk bercerita........ :) Kemarin ada sebuah pertunjukan wayang kulit dalangnya Ki Seno Aji, lakonnya apa aku tidak tahu. Gending Talu sudah dimulai di tabuh, Ayak-ayak Slendro Manyura diteruskan Srepeg kemudian Sampak. Kayon (gunungan) di cabut, di putar tiga kali kemudian ditempelkan di dahi si Dalang........ wayang baru Jejer.... Tetapi yang membuat saya kagum, pertujukan semeriah ini penonton sepi. Pandanganku tiba-tiba terusik pada sesuatu, aku mundur dari tempatku berdiri tadi, perhatianku teralihkan pada sesuatu sebelah timur tempat pertunjukan wayang itu berlangsung. Ada segerombolan orang yang banyak sekali, aneh.... si Dalang baru saja memulai pertunjukannya penonton kok sepi, malah ada orang sebanyak itu di tempat lain. Ada apakah gerangan? Pertanyaanku dalam hati. Aku bingung, kemudian hatiku tergerak untuk mendekat. O... ternyata orang-orang tersebut lagi bermain dadu. Ya.. permainan dadu yang dikopyok dan yang membuat tertarik teman-teman dan tetanggaku itu. Kemeriahan dan perbawanya ki Dalang Seno Aji jadi rendah karena Sang Hyang Bethara Dadu yang mengejowantah.......... Edan............ Tadi Pagi...... Ada kabar dari negara sebelah, wayang beserta dalangnya juga kebudayaan kita yang tidak pernah kita perhatikan dipelihara negara itu. Adi luhungnya diambil, keindahanya di klaim......hmm.. Tadi siang... Tetangga dan teman-teman yang tadi malam 'kesengsem' main dadu ketika ada pertunjukan wayang, pedagang arak yang membuat rusak mental bangsa, temanku lain yang berani membunuh bapaknya sendiri hanya demi harta dan ibu-ibu yang hanya ikut-ikutan saja. Semuanya berkumpul menjadi satu, akan meminta kebudayaannya yang telah di klaim oleh negara lain tadi. Demo besar-besaran menuju kantor kepala desa, merusak halaman dan kelurahan itu, kaca-kaca dipecahkan bahkan sebagian tempat dibakarnya. Semuanya mengamuk membabi buta meminta kembali kebudayaannya.............. Hatiku teriris...... Negaraku telah menjadi negara yang nista. Kebenaran diatas kemunafikan.... Ku hembuskan nafas panjang kemudian aku tersenyum........ :) :'( :'( :'( - bayoex - 29-08-2010 arie abimanyu link=topic=110.msg871#msg871 date=1283084199 Wrote:Tadi siang... :'( :'( :'( :'( entah femonena apa yang terjadi pak... :( apalagi mereka di depan kamera pasti semakin menjadi - jadi :'( :'( - arie abimanyu - 30-08-2010 :) Jangan panggil Pak nggak enak... :D perkewuh.... :)) Mudah-mudah semuanya apapun itu menjadi pembelajaran yang berharga bagi kita semua............ ;-) - wahyu.aves - 04-02-2011 kalo dtelusuri lbh jauh.. kekayaan musikal di Indonesia itu luar biasa ....bukan cuma dalam hal corak ragam bentuk bahkan pun pada instrumentariumnya juga. Saya sendiri adalah salah satu orang yg sempat asing dgn musikalitas bangsa sendiri, sampai suatu saat sy disadarkan oleh sebuah kenyataan bahwa...bangsa2 besar d dunia ..besar karena mengusung identitas budaya mereka sendiri.... CMIIW :) - arie abimanyu - 10-02-2011 Bangsa yang gila adalah bangsa yang melupakan budayanya........... |