01-09-2010, 01:51 PM
(This post was last modified: 23-05-2012, 09:13 PM by Ant On Baruna.)
Prastiyo Wrote:oh gitu ya.. sedikit demi sedikit saya pahami,
duh asyiknya berdiskusi..
lue Wrote:Kalo equipment audio processor/compressor/limitter, dianggap merusak speaker krn pemasangannya secara direct atau tdk melalui insert pada mixer. Kenapa produsen peralatan audio mengeluarkan produk ini? Kalo tujuan akhirnya merusak speaker?
Anggapan bahwa sinyal masukkan trs 'dipangkas' dari sinus menjadi kotak sebenarnya tdk demikian. Artinya sinyal yg berupa 'gunung' trs 'dipangkas' seolah-olah menjadi seperti kotak, menurut saya ini salah kaprah utk compressor/limitter. Walaupun 'dipangkas' tetap saja keluarannya adalah sinus
Justru menurut pendapat saya keberadaan audio processor/compressor/limitter sangat dibutuhkan utk mengatur keluaran dari mixer ke power amplifier, agar audio bisa 'terjaga' secara konstan .
Secara logika saja :
1. Seorang penyanyi ketika berbicara pelan menyapa penontonnya ' apa kabar.........?' trs tiba-tiba berteriak ' lanjut.........lagi...........masih pingin goyang lagi..........!' dgn level suara yg keras sekali sampai clip pada mixer. Apa yg terjadi pada speaker kalo secara tiba-tiba dihentak dgn suara keras?
2. Saat memutar lagu dgn intro yg lembut dan pada interlude menghentak keras sekali?
3. Penggantian equipment musik seperti gitar atau lainnya secara tiba-tiba tanpa memberitahu operatornya, asal cabut jack aja tanpa menurunkan level volumenya?
Nah dgn adanya peralatan audio processor/compressor/limitter sangat membantu utk menghindari contoh di atas. Karena mampu membatasi/limit dan meng-kompres sekaligus mem-proses. Selain itu juga mampu menekan desah apabila kondisi semua peralatan volumenya terbuka tanpa audio masukkan, sehingga tdk terdengar desah maupun desis di speakernya.
Apalagi di dunia broadcasting equipment audio processor/compressor/limitter sangat dibutuhkan sekali. Karena mutlak mampu membuat 'rata-rata' secara konstan volume audionya. Kita bisa membayangkan saja >> suara penyiar yg lembut suaranya kecil >> pendengar membesarkan volume radio penerimanya. Ketika musik yg keras >> pendengar mengecilkan volume radio penerimanya.............cape deh!
Dengan keberadaan audio processor/compressor/limitter inilah volume audio tetap 'terjaga' pada level yg disetting.
Prastiyo Wrote:hehehe....
saya yang baca juga harus tengok sana tengok sini...
tapi ya namanya diskusi. barangakli saya yg salah paham ya.
Terus lanjutkan, sungguh ini adalah masukan2 yang sangat berarti bagi seorang awam seperti saya.
Lanjutkan...!!!
kloengsoer Wrote:yang kecil boleh lewat, yang pas boleh lalu, yang lebih sedikit dipangkas, yang lebih besar lagi dikempesin, yang sanggat besar dipotong2 biar muat,
kalau sudah terlalu itu pada output cuma ada setrum dc sebesar kemampuan compressor dan amplipun tetap mengira sebagai sinyal tanpa jeda tetap dikuatkan, akibatnya speaker seperti diberi setrum aki, tinggal tunggu bau harum khas saja,
seperlu nya saja, semua ada batasnya :)
Prastiyo Wrote:mantaf mantaf.......
Jujur saja saya pada prakteknya masih [nol] pak..
tapi dengan adanya uraian dari para senio2 yang tentunya sudah mengalami teori dan praktek, setidaknya itu bisa memberi gambaran2 untuk nanti suatu saat jika memungkinkan untuk saya praktekkan.
indra_co_maniz Wrote:Quote:Apalagi di dunia broadcasting equipment audio processor/compressor/limitter sangat dibutuhkan sekali. Karena mutlak mampu membuat 'rata-rata' secara konstan volume audionya. Kita bisa membayangkan saja >> suara penyiar yg lembut suaranya kecil >> pendengar membesarkan volume radio penerimanya. Ketika musik yg keras >> pendengar mengecilkan volume radio penerimanya.............cape deh!
Dengan keberadaan audio processor/compressor/limitter inilah volume audio tetap 'terjaga' pada level yg disetting.
kalau pada broadcast iya :D WAJIB ...
untuk live, nanti dulu. banyak yg mengasumsikan sound system kurang besar suara (intensitas) dengan menambah compressor memang mengamankan sinyal. tapi...
mengapa perlu ada limiter kalau ada clip indicator ??
berarti sudah jelaslah bahwa ...
Prastiyo Wrote:bahwa apa mas...
lanjutin dong mas... nanggung nih hehehe..
:D
adan Wrote:ibarat seperti bendungan ya pak mod
irawanfm Wrote:klo prosessor beda lagi ya?????............. :P
indra_co_maniz Wrote:sudah jelas mas prast :D
Prastiyo Wrote:Masih membayang2kan Mas...
:P
romy siregar Wrote:numpang lewat mas????
bukan kalo kita pakek compressor itu bakalan mengurangi keluar ya hasil audio kelespeker.....
apa ngak ada alat untu menambah daya dorong ya?????
tolong...........di bantu??????
tommykwitang Wrote:Yassud Wrote:Waaduh kalau suda baca +.- dB kok susah kali nangkap nya. :shock: :ngantuk:
Numpang praktek MOD seminggu aja, sebelum OT pertama ane digelar. :P
Bukannya dB itu malah membuat sederhana hitungan?! Perkalian jadi penjumlahan, pembagian jadi pengurangan. Desimal 100X = +20dB, des 1000x = 30dB, des 1/1000 = -30dB, des 1/100 = -20dB.
Misalkan sinyal 10 Watt kita anggap 10dB, ketika diperkuat 100X akan menjadi 1000Watt. Dalam hitungan db sinyal 10dB diperkuat 20dB hasilnya menjadi 30dB, tidak perlu angka yg besar dan hitungan perkalian atau pembagian sembako, eh enggak pake sembako deh. Maaf dalam contoh saya gunakan bilangan yang gampang2 dihitungnya untuk memudahkan pemahaman.
Nah masalah rumus konversi desimal ke dB silahkan tanya ke MOMOD Indra, beliau punya link sakti untuk menjawab tantangan ini. Monggo jangan malu2, supaya tidak pada pecah dipaluin barang2nya.
indra_co_maniz Wrote:Quote:numpang lewat mas????
bukan kalo kita pakek compressor itu bakalan mengurangi keluar ya hasil audio kelespeker.....
apa ngak ada alat untu menambah daya dorong ya?????
tolong...........di bantu??????
compress itu untuk kestabilan suara, kalau tidak lebih maka tidak dikurangi dong :D
alat untuk menambah daya dorong ??, ada.
@mastommy : :D saya ngga ada link, ngga ngerti dB-dBan...
tommykwitang Wrote:indra_co_maniz Wrote:Quote:numpang lewat mas????
bukan kalo kita pakek compressor itu bakalan mengurangi keluar ya hasil audio kelespeker.....
apa ngak ada alat untu menambah daya dorong ya?????
tolong...........di bantu??????
compress itu untuk kestabilan suara, kalau tidak lebih maka tidak dikurangi dong :D
alat untuk menambah daya dorong ??, ada.
@mastommy : :D saya ngga ada link, ngga ngerti dB-dBan...
Akh masa, kang Indra kura2 dalam perahu.
Saya nimbrung dikit nih, justru audio compressor itu nambah daya dorong. Sinyal yang lemah diperkuat dengan nilai penguatan tinggi, yang kuat dibatasi. Sehingga semua sinyal terdengar jelas. Tapi kalau compressor disetel berlebihan, dinamika musiknya jadi hilang, jadi musik planet lain kali yah?! Setelan yang bagus ikuti petunjuk kang Indra diawal, saya setuju dan memang saya juga gunakan cara itu.
Audio compressor wajib di discotique dan untuk musik house, bikin bassnya lebih menggebuk dibadan serasa dipijat jago karate, tapi hati2 saat dipanggung, bisa bikin feedback, boleh pakai dipanggung tapi sekedarnya saja supaya agak gagah (padat) sedikit suaranya. Kalau Compressor wajib dibengkel dan tempat tambal ban, paling tidak buat ngebersihin alat2 yang berdebu. :roll:
indra_co_maniz Wrote:Quote:tapi hati2 saat dipanggung, bisa bikin feedback, boleh pakai dipanggung tapi sekedarnya saja supaya agak gagah (padat) sedikit suaranya.
jangan lupa latency menyebabkan telat terutama untuk instrumen gebuk :D , kalau di FOH ngga ada pengaruhnya....
tommykwitang Wrote:Betul kang Indra, tapi saya jarang pakai audio compressor untuk live, biar alat2 musik pakai sendiri kalau mereka mau, tapi untuk master lebih suka yang alami. Sekali2nya pakai compressor di master cuma di Palu saat Tofu main disana. Saya berani karena ruangan dan speakernya mendukung, sehingga meskipun penyanyinya berdiri didepan FOH tak ada masalah, mungkin karena speaker aktip KV2 memang sudah dilengkapi delay sebelum x-over internalnya, jadi aman deh.
Kalo mau lanjut... silahkan...
Maaf lama gak aktif
