(17-09-2013, 06:12 AM)bimo_tok Wrote: Cara menghitung daya amplifier.
Jika amplifier disainnya benar untuk class A, B, AB, G, dan H maka dayanya ditentukan oleh tegangan powersupplynya.
Misalnya: Pakai trafo 42V CT maka daya ampli adalah sbb:
Tegangan DC tanpa beban: (42V x akar dua) - 2x tegangan dioda = sekitar 57VDC (plus dan minus).
Tegangan DC dengan beban penuh akan turun tergantung efisiensi trafo dan besarnya capasitor penyerah. Untuk praktisnya asumsinya penurunan sekitar 4V. Jadi tegangan DC jadi 53V.
Jika beban amplifier 8 Ohm maka tegangan puncak di speaker adalah: tegangan DC - tegangan saturasi transistor ouput, asumsikan sekitar 1V. Jadi tegangan peak di speaker 52V.
Daya amplifier pada beban 8 Ohm = (tegangan rms) dikuadratkan / 8 Ohm = (52 / akar dua) kuadrat / 8 = 169 Wat rms.
Untuk beban 4 Ohm, penurunan tegangan DC lebih besar lagi jadi dayanya tidak 169 x 2, tapi lebih kecil lagi.
Umumnya daya amplifier diukur dengan distorsi sinyal sinus antara 1% sampai 10% mendekati clipping.
Kit power amplifier yang dijual di Indonesia umumnya mencantumkan daya yang salah karena mungkin yang bikin tidak bisa mengukur daya amplifier atau tidak mengerti cara menghitungnya.
Semoga bermanfaat.
Kalau class D bagaimana kang @bimo_tok?
(12-09-2013, 09:56 AM)nafiri Wrote: cara paling simple
semakin dingin PA... semakin effisien.
@nafiri : semakin dingin, bararti ga usah pake heatsink yg gede (bisa ngirit heatsink dan tempat)..... :bd
(12-09-2013, 10:31 AM)didiet78 Wrote: Klas A max 25%
Klas B max 75%
Klas C max 90%
Klas D max 98%
Klas AB tergantung sedang di posisi klas apa.
Didiet
Berarti class D lebih efisien. Ohya, kalau class G dan H? kira2 berapa ya kang @didiet78?
