12-12-2013, 10:58 PM
(11-12-2013, 07:23 PM)bimo_tok Wrote: 1. Respon frekuensi
Umumnya manusia hanya bisa mendengarkan frekuensi audio dari 20 - 20kHz. Semakin tua pendengaran manusia makin menurun pada frekuensi tinggi. Namun amplifier tidak didisain memiliki respon frekuensi dari 20-20kHz saja. Pertimbangannya antara lain toleransi komponen. Kemudian banyak juga amplifier yang memiliki respon frekuensi yang sangat lebar (sampai beberapa ratus kilo hertz bahkan sampai 1Mhz) memiliki kualitas suara yang lebih baik, meskipun ini masih menjadi perdebatan. Cara mengukur respon frekuensi dengan masukan sinyal sinus dan keluarannya diukur dengan osiloskop atau dengan sinyal sinus yang di sweep dan keluarannya diukur dengan spectrum analyzer.
2. Total Harmonic Distortion (THD)
Sinyal sinus murni jika ditampilkan pada spectrum analyzer, hanya terlihat pada satu frekuensi. Namun sinyal sinus yang cacat akan terlihat menjadi beberapa frekuensi. Sinyal-sinyal selain frekuensinya sendiri ini yang dinamakan Total Harmonic Distortion (THD). Makin kecil THD makin linear amplifier tersebut. Umumnya manusia hanya bisa membedakan THD pada sinyal sinus sampai 0,01%. Namun hal ini masih menjadi perdebatan. Pada sinyal yang lebih kompleks, THD makin susah dideteksi dengan telinga manusia. Cara pengukurannya dengan sinyal sinus 1Khz dan keluarannya pada Audio Distortion Meter. Pakai spectrum analyzer juga bisa namun harus dihitung manual agar menghasilkan THD dalam besaran % (persen).
3. Signal To Noise (S/N) Ratio
S/N Ratio adalah perbandingan antara sinyal dan bukan sinyal (noise) dalam desibel (dB). Amplifier yang ideal seharusnya jika input tidak ada sinyal maka di keluran juga tidak ada tegangan AC sama sekali. Namun karena tidak ideal maka selalu ada noise. Cara pengukurannya dengan cara masukan dihubungkan dengan resistor 600 atau 50 Ohm ke ground dan keluarannya diukur dengan S/N Ratio meter. Pada S/N Ratio meter bisa diberi filter yang biasa disebut A weighted atau tanpa filter atau disebut non A weighted. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan sinyal sinus 1Khz yang normal (tidak clipping).
Jika pada pre-amp, beban keluarannya umumnya 600 Ohm, pada amplifier umumnya pakai resistor daya 8 Ohm atau 4 Ohm.
Umumnya pengukuran tadi bisa dilakukan dengan soundcard yang berkualitas baik. Untuk pengukuran yang lain, Insya Allah menyusul.
Kayaknya masih ada 1 yang kurang deh. Pengukuran ampli yang paling mendasar (sebelum 3 diatas) adalah berapa watt/voltase/arus yang bisa dihasilkan pada resistansi yang ber-beda2. Biasa yang diliat di spec amp kan kemampuan ininya dulu kan? atau aku salah?
