27-03-2014, 09:13 AM
Beberapa perancang ada yang membatasi rancangannya karena:
1. Total Harmonic Distortion (THD) jika di bawah 0,1% tidak dapat dideteksi oleh telinga manusia.
Ini masih dalam perdebatan. Beberapa percobaan melaporkan bahwa THD 0,01% masih bisa dideteksi oleh telinga manusia. Dulu sewaktu tehnologi speaker belum maju seperti sekarang, THD 1% dianggap cukup.
2. Baxandall melakukan penelitian pada musik-musik rekaman dan menemukan slew rate rekaman2 tersebut tidak melebih 0,5V peak/uS. Lalu John Crul juga melakukan penelitian dan menyimpulkan angka yang lebih besar dari 0,5V peak /uS. Pada rekaman digital sekarang ini dimungkinan slew rate sebesar 1V peak /uS. Sekarang ini masih menjadi perdebatan di forum luar apakah slew rate yang diperlukan hanya dipengaruhi oleh kebutuhan slew rate inputnya saja atau slew rate juga menyebabkan cacat yang lain. Banyak perancang yang percaya bahwa makin tinggi slew rate makin kecil cacat intermodulasinya.
Jika dengan harga produksi yang sama kita bisa merancang amplifier dengan THD kurang dari 0,01% dan slew rate melebihi 1V peak /uS, kenapa tidak? Dengan membatasi target spesifikasi tidak akan ditemukan kemajuan dalam perancangan sebuah amplifier.
Sekarang ini pengukuran spesifikasi audio dengan sebuah frekuensi tunggal hampir kehilangan makna untuk menggambarkan kualitas suara sistem audio karena batas-batas spesifikasi sebelumnya berhasil dilampaui. Penggunaan pengukuran dengan banyak frekuensi (misalnya pengukuran cacat intermodulasi) lebih memiliki arti dalam menggambarkan kualitas suara yang sesungguhnya.
Namun sangat disayangkan perancang amplifier lokal dan yang memodifikasinya kurang memahami spesifikasi pengukuran dalam dunia audio. Umumnya mereka hanya mengandalkan telinga sebagai alat ukur. Sebagus apapun telinga kamu jika memakai TOA akan sangat sulit membedakan kualitas suara amplifier yang harganya jutaan dengan yang harganya puluhan juta. Dengan alat ukur akan mudah sekali dibedakannya.
Jika kita tidak memiliki alat ukur yang memadai, usahakan kita memakai speaker yang cukup bagus sebagai referensi. Sayangnya hampir semua speaker untuk PA tidak bisa dipakai sebagai referensi karena cacatnya yang cukup tinggi. Untuk membandingkan kualitas amplifier memang sebaiknya memakai speaker untuk home atau studio.
Harga speaker untuk home dan studio sangat mahal dan sering kali "over price" (harganya berkali-kali lipat daripada harga produksi). Yang kualitas tertingginya bisa mencapai ratusan juta sepasangnya. Kebanyakan dari kita pasti sulit untuk menjangkaunya. Tapi kita masih bisa mensimulasikan rancangan kita dan memprediksi spesifikasinya.
Secara umum, amplifier yang memiliki spesifikasi yang baik akan bersuara makin baik pada speaker yang kualitasnya tinggi. Sedangkan amplifier yang memiliki spesifikasi yang kurang baik, suaranya akan sama saja walaupun menggunakan speaker yang kualitasnya tinggi.
1. Total Harmonic Distortion (THD) jika di bawah 0,1% tidak dapat dideteksi oleh telinga manusia.
Ini masih dalam perdebatan. Beberapa percobaan melaporkan bahwa THD 0,01% masih bisa dideteksi oleh telinga manusia. Dulu sewaktu tehnologi speaker belum maju seperti sekarang, THD 1% dianggap cukup.
2. Baxandall melakukan penelitian pada musik-musik rekaman dan menemukan slew rate rekaman2 tersebut tidak melebih 0,5V peak/uS. Lalu John Crul juga melakukan penelitian dan menyimpulkan angka yang lebih besar dari 0,5V peak /uS. Pada rekaman digital sekarang ini dimungkinan slew rate sebesar 1V peak /uS. Sekarang ini masih menjadi perdebatan di forum luar apakah slew rate yang diperlukan hanya dipengaruhi oleh kebutuhan slew rate inputnya saja atau slew rate juga menyebabkan cacat yang lain. Banyak perancang yang percaya bahwa makin tinggi slew rate makin kecil cacat intermodulasinya.
Jika dengan harga produksi yang sama kita bisa merancang amplifier dengan THD kurang dari 0,01% dan slew rate melebihi 1V peak /uS, kenapa tidak? Dengan membatasi target spesifikasi tidak akan ditemukan kemajuan dalam perancangan sebuah amplifier.
Sekarang ini pengukuran spesifikasi audio dengan sebuah frekuensi tunggal hampir kehilangan makna untuk menggambarkan kualitas suara sistem audio karena batas-batas spesifikasi sebelumnya berhasil dilampaui. Penggunaan pengukuran dengan banyak frekuensi (misalnya pengukuran cacat intermodulasi) lebih memiliki arti dalam menggambarkan kualitas suara yang sesungguhnya.
Namun sangat disayangkan perancang amplifier lokal dan yang memodifikasinya kurang memahami spesifikasi pengukuran dalam dunia audio. Umumnya mereka hanya mengandalkan telinga sebagai alat ukur. Sebagus apapun telinga kamu jika memakai TOA akan sangat sulit membedakan kualitas suara amplifier yang harganya jutaan dengan yang harganya puluhan juta. Dengan alat ukur akan mudah sekali dibedakannya.
Jika kita tidak memiliki alat ukur yang memadai, usahakan kita memakai speaker yang cukup bagus sebagai referensi. Sayangnya hampir semua speaker untuk PA tidak bisa dipakai sebagai referensi karena cacatnya yang cukup tinggi. Untuk membandingkan kualitas amplifier memang sebaiknya memakai speaker untuk home atau studio.
Harga speaker untuk home dan studio sangat mahal dan sering kali "over price" (harganya berkali-kali lipat daripada harga produksi). Yang kualitas tertingginya bisa mencapai ratusan juta sepasangnya. Kebanyakan dari kita pasti sulit untuk menjangkaunya. Tapi kita masih bisa mensimulasikan rancangan kita dan memprediksi spesifikasinya.
Secara umum, amplifier yang memiliki spesifikasi yang baik akan bersuara makin baik pada speaker yang kualitasnya tinggi. Sedangkan amplifier yang memiliki spesifikasi yang kurang baik, suaranya akan sama saja walaupun menggunakan speaker yang kualitasnya tinggi.
