02-07-2014, 03:37 PM
(02-07-2014, 12:00 PM)zia Wrote: keren mas, dapet thd segitu untuk skema simple.
btw, untuk nilai R2 = R3 (simetris), Jika diturunkan ke 470 atau dinaikkan ke 1K, apa pengaruhnya ya?
Dalam beberapa artikel ada pendapat untuk minimisasi tegangan offset dc. jadi salah satu R diganti memakai VR.
Konon cara lain dengan memasang R pada emitor tr differential, katanya bisa juga untuk minimisasi dc offset, dengan pengaturan nilai R tsb ?
Fungsi R5 sebagai apa ya? dalam beberapa skema, R5 ada 2 biji, yang konek ke output. (masing2 emitor driver terhubung ke output melalui R5).
R3 sebenarnya tidak perlu dipasang karena ngga ngaruh apa2. Nilai R2 dicari agar arus kolektor saat tidak ada sinyal menjadi sama atau mendekati. Semakin mendekati arus kolektor Q1 dan Q2 semakin kecil THD nya. Nilai R2 agar arus kolektor Q1 dan Q2 sama, besarnya tergantung dari besarnya sumber arus tetap yang ditentukan oleh R1. Makin kecil nilai R1, nilai R2 juga akan makin kecil.
Resistor emittor pada penguatan diferensial atau LTP kegunaan utamanya adalah meningkatkan slew rate. Namun juga bisa membuat DC offset menjadi kecil jika kedua resistor emittor tersebut nilainya berbeda (bisa pakai trimpot). Ini disebabkan VBE dan hFE yang tidak sama persis dari Q1 dan Q2. Jika sama persis, teorinya, jika R15 dan R14 nilainya sama, maka outputnya harusnya 0V (ujung R14) karena ujung R15 di ground kan.
Fungsi R5 agar transistor driver Q4 dan Q5 arus kolektornya tidak nol dalam kondisi apapun, sehingga dinamakan driver kelas A. Jika resistor emitor Q4 dan Q5 dihubungkan ke output maka transistor driver menjadi kelas B, karena ada kondisi dimana arus kolektor Q4 dan Q5 menjadi nol. Nilai R5 ditentukan agar Q4 dan Q5 tidak nol. Makin rendah impedansi output, makin kecil nilai R5. Jika arus Q4 dan Q5 sampai menjadi nol, maka transistor driver akan kehilangkan kontrol terhadap transistor final sehingga THD nya naik. Biasanya R5 diparalel dengan capacitor untuk mempercepat transistor final menjadi OFF dari keadaan ON di frekuensi tinggi.
