(07-08-2014, 11:51 AM)Budiyanto Wrote: Ow begitu ya kang, apa bias itu tergantung rangkaianya, apa di set keinginan perakitnya,
contoh pa kelas B apakah bisa di set bias ke kelas A/AB ya kang, maklum kang blm pahan rumusnya set bias lewat emitor :-D
Kalau over bias contonya kayak apa kang..
Kalau over bias contonya kayak apa kang..
Setting arus bias tergantung perancangnya. Kalau di setting kelas B hasilnya cacat crossover jadi tinggi tapi lebih efisien. Perancang ampli kelas B juga ngga perlu memikirkan kestabilan arus bias terhadap suhu, karena arus biasnya nol atau kecil sekali.
Tegangan VBE pada transistor bipolar (juga tegangan maju dioda) memiliki koefisien suhu sebesar -2,2mV/derajat celsius. Artinya jika suhu naik 1 derajat, tegangan VBE nya turun 2,2mV. Tegangan VBE turun menyebabkan arus emitornya naik (karena tegangan bias VBE tetap). Jadi makin panas arus biasnya makin tinggi.
Agar arus bias stabil terhadap suhu, maka tegangan bias VBE harus memiliki koefisien suhu yang sama dan suhunya juga harus sama dengan suhu transistor yang dikendalikan arus biasnya. Makanya pada kelas AB dan kelas A, transistor yg berfungsi untuk memberikan tegangan bias (VBE multiplier) dipasang pada pendingin transistor final (untuk konfigurasi emitor follower) atau pada pendingin transistor driver (untuk konfigurasi CFP).
Over bias, maksudnya arus biasnya melebihi arus bias optimum (saat cacat crossover paling rendah). Pada transistor bipolar akan terjadi gm doubling. Gm = transkonduktansi = perbedaan arus keluaran dibagi dengan perbedaan tegangan masukan = delta I ouput / delta V input.
Gm doubling = transkonduktansi menjadi 2x pada daerah crossover.
Jadi ampli kelas B bisa diset ke kelas AB atau kelas A, asal memperhatikan kestabilan arus bias terhadap suhu.
Simulasi pengaruh suhu terhadap arus kolektor/emitor:
Hasil simulasi dari suhu 20 derajat sampai 60 derajat:
Arus emitor naik jika suhunya naik.
