Kalau belum paham perancangan amplifier sebaiknya mengikuti schematic dari perancangnya. Karena pada beberapa schematic yang memakai transistor final dengan fT yang rendah akan berosilasi jika diganti dengan transistor final dengan fT yang tinggi atau sebaliknya.
Kualitas amplifier tidak semata-mata ditentukan oleh transistor finalnya semata2. Coba saja bandingkan OCL 150 dengan transistor final 2SC5200 dan pasangannya dengan "http://anistardi.wordpress.com/2014/10/14/perkutut-amplifier/" yang sama2 memakai transistor final yang sama. Sudah pasti berbeda.
Kualitas amplifier ditentukan oleh spesifikasi2:
- Total Harmonic Distortion (THD) di setiap frekuensi audio
- Intermodulation Distortion (IMD)
- Slew rate atau full power bandwidth
- Power supply rejection ratio (PSRR)
- Signal To Noise Ratio
- dll.
Gabungan dari spesifikasi tersebut yang membuat suaranya berbeda.
Bagi yang tidak mengerti perancangan amplifier, mereka merancang hanya berdasarkan coba-coba saja. Yang penting bunyi dan di telinganya "enak". Bukan bagaimana merancang agar spesifikasi2nya mendekati ideal, sehingga sinyal output bentuknya mendekati sinyal input. Dan suara yang dihasilkan hanya tergantung pada kualitas speaker (jika kita anggap sinyal input sempurna).
Suara yang tidak sama dengan yg diharapkan (sesuai hasil rekaman atau suara aslinya) maka bisa disebut sound efek. Entah suaranya menjadi lebih jelek ataupun lebih merdu (tergantung selera yang menilai).
Kualitas amplifier tidak semata-mata ditentukan oleh transistor finalnya semata2. Coba saja bandingkan OCL 150 dengan transistor final 2SC5200 dan pasangannya dengan "http://anistardi.wordpress.com/2014/10/14/perkutut-amplifier/" yang sama2 memakai transistor final yang sama. Sudah pasti berbeda.
Kualitas amplifier ditentukan oleh spesifikasi2:
- Total Harmonic Distortion (THD) di setiap frekuensi audio
- Intermodulation Distortion (IMD)
- Slew rate atau full power bandwidth
- Power supply rejection ratio (PSRR)
- Signal To Noise Ratio
- dll.
Gabungan dari spesifikasi tersebut yang membuat suaranya berbeda.
Bagi yang tidak mengerti perancangan amplifier, mereka merancang hanya berdasarkan coba-coba saja. Yang penting bunyi dan di telinganya "enak". Bukan bagaimana merancang agar spesifikasi2nya mendekati ideal, sehingga sinyal output bentuknya mendekati sinyal input. Dan suara yang dihasilkan hanya tergantung pada kualitas speaker (jika kita anggap sinyal input sempurna).
Suara yang tidak sama dengan yg diharapkan (sesuai hasil rekaman atau suara aslinya) maka bisa disebut sound efek. Entah suaranya menjadi lebih jelek ataupun lebih merdu (tergantung selera yang menilai).
