18-12-2010, 03:41 AM
Sedikit menanggapi Pak Chandra:
Setelah mempelajari trid ini, juga mempelajari salah satu video Bapak di "Apple vs Apple" yang Bapak posting di rumah yang lama
Sejauh yang saya dapat tangkap, beberapa point2 penting dari bad design yang Bapak maksud (yang bisa saya tanggapi), begini:
Pertama, soal drum yang kesannya datar tidak ada hentakan, saya sedikit setuju dengan Bapak. Ada baiknya kita review hasil dari internal speaker keyboard itu sendiri, ga main mixing2an. Menurut saya di sini yang menjadi persoalan adalah karakter suara drum kit nya. Tapi mungkin bisa kita siasati dengan melakukan edit ulang, baik jenis drumnya maupun velocitynya. (Ada yang mau share soal ini?). Lagipula, kita sering lupa, dalam satu lagu Pop kan tidak seluruhnya dari awal sampai akhir full hentakan, itu sama saja Rock namanya. Tentu ada yang soft dan ada yang garang. Jadi menurut saya, ketimbang meributkan karakter drum kit, ada baiknya kita lebih berfokus kepada kreativitas dengan velocity.
Kedua, soal intro dan ending, juga lagi2 ini soal trick. Untuk aransemen yang "sepi" di Main A, kalau kita sudah tahu pada dasarnya Intro dan Ending 3 di Yamaha memang "rame", ngapain cari gara2 dengan memakai Intro dan Ending tersebut? Wong Yamaha tidak pernah mewajibkan Intro ini khusus untuk Main ini, Ending itu khusus untuk Main itu. Kan kita bisa main manual saja untuk itu. (Saya sendiri juga tidak terlalu sering kok memakai intro dan ending bawaan Yamaha, entar orang lain juga bilang "Mana ekspresinyaaaa?" hehehe).
Jadi no offense ni Pak, walaupun saya sangat awam, saya punya prinsip tidak mau manja dengan gear saya. Saya yang kendalikan dia, bukan sebaliknya.
Memang, tidak seperti di Rolland, Intro dan Ending tidak di-attach pada masing2 Main/ Variation ABCD (fitur ini termasuk yang saya sukai dari Roland). Tapi kalau saya tidak salah, seingat saya waktu kita bikin style di Yamaha ada loh Intro dan Ending 4, hanya saja saya belum pernah coba soalnya tidak tahu dimana tombolnya entar buat mengaktifkannya. (mohon koreksinya buat para solfers). Dan di Clavinova yang biasa saya pakai di gereja (liad foto profil) fitur ini juga ada. Terlepas dari siapa yang mencontek siapa, sudahlah.
Ketiga, yaitu dalam hal loncatan aransemen.
Yang Bapak temukan di Yamaha, saat kita bermain di Main A dan hendak berpindah ke Main D, maka fill in yang bunyi adalah fill D, sementara menurut Bapak (sebagaimana yang Bapak tunjukkan di Roland) lebih cocok yang bunyi tu Fill A sebelum masuk ke Main D. Begitu ya Pak? (mohon dikoreksi) :)
Naah, cara saya ngakalinya sejauh ini begini:
Saat dari Main A hendak pindah ke Main B, saya mainkan saja fill A, kemudian dengan timing yang pas saya tekan lagi D, maka Main D yang akan bunyi, bukan fill nya. Sehingga tidak akan terjadi double fill (ini butuh latihan memang). Kalau ternyata ga pas timingnya, dan terjadi doulbe fill, tekan main D tersebut.
Atau secara singkatnya, pakai teknik double click di Main yang dimaksud.
Kalaupun takut ambil resiko (wah udah kaya gamble nih ceritanya, hehe...), takut double fill terjadi, tenang. Masih ada cara lain, yakni dengan mematikan auto fill tepat setelah kita memainkan fill A, dengan ini maka double fill bisa dihindari.
Saya meminjam istilah yang saya suka dari Bapak dan juga Bang Ihut, "Jika mampu menguasai isi perut suatu gear, maka di tangan yang tepat gear itu akan memberi output yang luar biasa".
Tapi by the way, ngomong2 nih Pak yah..
Dari beberapa video yang Bapak aplod sebagai bahan koreksi maupun komparasi (terlebih saat Bapak memainkan keyboard merk lain), saya perhatikan koq rata2 stylenya convert dari Yamaha ya Pak ya?
Setelah mempelajari trid ini, juga mempelajari salah satu video Bapak di "Apple vs Apple" yang Bapak posting di rumah yang lama
Sejauh yang saya dapat tangkap, beberapa point2 penting dari bad design yang Bapak maksud (yang bisa saya tanggapi), begini:
Pertama, soal drum yang kesannya datar tidak ada hentakan, saya sedikit setuju dengan Bapak. Ada baiknya kita review hasil dari internal speaker keyboard itu sendiri, ga main mixing2an. Menurut saya di sini yang menjadi persoalan adalah karakter suara drum kit nya. Tapi mungkin bisa kita siasati dengan melakukan edit ulang, baik jenis drumnya maupun velocitynya. (Ada yang mau share soal ini?). Lagipula, kita sering lupa, dalam satu lagu Pop kan tidak seluruhnya dari awal sampai akhir full hentakan, itu sama saja Rock namanya. Tentu ada yang soft dan ada yang garang. Jadi menurut saya, ketimbang meributkan karakter drum kit, ada baiknya kita lebih berfokus kepada kreativitas dengan velocity.
Kedua, soal intro dan ending, juga lagi2 ini soal trick. Untuk aransemen yang "sepi" di Main A, kalau kita sudah tahu pada dasarnya Intro dan Ending 3 di Yamaha memang "rame", ngapain cari gara2 dengan memakai Intro dan Ending tersebut? Wong Yamaha tidak pernah mewajibkan Intro ini khusus untuk Main ini, Ending itu khusus untuk Main itu. Kan kita bisa main manual saja untuk itu. (Saya sendiri juga tidak terlalu sering kok memakai intro dan ending bawaan Yamaha, entar orang lain juga bilang "Mana ekspresinyaaaa?" hehehe).
Jadi no offense ni Pak, walaupun saya sangat awam, saya punya prinsip tidak mau manja dengan gear saya. Saya yang kendalikan dia, bukan sebaliknya.
Memang, tidak seperti di Rolland, Intro dan Ending tidak di-attach pada masing2 Main/ Variation ABCD (fitur ini termasuk yang saya sukai dari Roland). Tapi kalau saya tidak salah, seingat saya waktu kita bikin style di Yamaha ada loh Intro dan Ending 4, hanya saja saya belum pernah coba soalnya tidak tahu dimana tombolnya entar buat mengaktifkannya. (mohon koreksinya buat para solfers). Dan di Clavinova yang biasa saya pakai di gereja (liad foto profil) fitur ini juga ada. Terlepas dari siapa yang mencontek siapa, sudahlah.
Ketiga, yaitu dalam hal loncatan aransemen.
Yang Bapak temukan di Yamaha, saat kita bermain di Main A dan hendak berpindah ke Main D, maka fill in yang bunyi adalah fill D, sementara menurut Bapak (sebagaimana yang Bapak tunjukkan di Roland) lebih cocok yang bunyi tu Fill A sebelum masuk ke Main D. Begitu ya Pak? (mohon dikoreksi) :)
Naah, cara saya ngakalinya sejauh ini begini:
Saat dari Main A hendak pindah ke Main B, saya mainkan saja fill A, kemudian dengan timing yang pas saya tekan lagi D, maka Main D yang akan bunyi, bukan fill nya. Sehingga tidak akan terjadi double fill (ini butuh latihan memang). Kalau ternyata ga pas timingnya, dan terjadi doulbe fill, tekan main D tersebut.
Atau secara singkatnya, pakai teknik double click di Main yang dimaksud.
Kalaupun takut ambil resiko (wah udah kaya gamble nih ceritanya, hehe...), takut double fill terjadi, tenang. Masih ada cara lain, yakni dengan mematikan auto fill tepat setelah kita memainkan fill A, dengan ini maka double fill bisa dihindari.
Saya meminjam istilah yang saya suka dari Bapak dan juga Bang Ihut, "Jika mampu menguasai isi perut suatu gear, maka di tangan yang tepat gear itu akan memberi output yang luar biasa".
Tapi by the way, ngomong2 nih Pak yah..
Dari beberapa video yang Bapak aplod sebagai bahan koreksi maupun komparasi (terlebih saat Bapak memainkan keyboard merk lain), saya perhatikan koq rata2 stylenya convert dari Yamaha ya Pak ya?
