16-09-2010, 03:54 PM
maaf bila cuma sedikit membantu...
[size=14pt]Laras Sléndro Pélog[/size]
Laras dalam dunia karawitan selain untuk menyebut nada juga tangga nada. Laras 1 berarti nada 1, laras 2 berarti nada 2, dan seterusnya. Sedangkan laras pélog berarti tangga nada pélog dan laras sléndro berarti tangga nada sléndro. Laras dalam arti nada adalah bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi yang bergetar dengan kecepatan getar teratur (Jamalus 1988: 16). Jika sumber bunyi bergetar dengan cepat maka bunyi yang dihasilkan tinggi. Jika getaran sumber bunyi itu lambat maka bunyi terdengar rendah. Semua nada musikal terdiri atas empat unsur, yakni: (1) tinggi-rendah nada, (2) panjang-pendek nada, (3) keras-lemah bunyi nada, dan (4) warna suara (Miller 2001: 24). Dalam dunia karawitan notasi sebagai simbul laras disebut titilaras.
Tangga nada oleh Jamalus (1988: 16-17) diartikan sebagai serangkaian nada berurutan dengan perbedaan tertentu membentuk sistem nada. Jika dalam jarak dua nada yang jarak perbandingan frekuensinya dua kali lipat tersusun lima buah nada yang tinggi rendahnya berbeda maka sistem nadanya dinamakan pentatonik, dan urutan nadanya dinamakan tangga nada pentatonik.
Nada-nada dalam laras sléndro dan pélog dikelompokan atas dasar wilayah rasa seleh yang dikenal dengan istilah pathet. Menurut tradisi karawitan gaya Surakarta, dalam laras sléndro dan pélog masing-masing terdapat tiga macam pathet, yakni: sléndro pathet nem, sléndro pathet sanga, dan sléndro pathet manyura, dan pélog pathet lima, pélog pathet nem, serta pélog pathet barang. (Martapangrawit 1975: 28-44, Sri Hastanto 1985).
Pecatatan laras dalam karawitan Jawa menggunakan notasi kepatihan yakni sitem notasi gamelan Jawa yang muncul pada jaman Adipati Sasradiningrat IV masa pemerintahan Pakubhuwana X. Nada-nada pada ga-melan Jawa ditulis dengan menggu-nakan simbol angka satu sampai tujuh. Pembacaan notasi tersebut secara berurutan yakni: 1 dibaca ji, 2 dibaca ro, 3 dibaca lu, 4 dibaca pat, 5 dibaca ma, 6 dibaca nem, dan 7 dibaca pi. Dalam laras sléndro terdapat lima nada, yakni: 1, 2, 3, 5, dan 6, sedang pélog tujuh nada yakni: 1,2, 3, 4, 5, 6, dan 7 (Pradjapangrawit 1990: 169).
Hardjosoebroto (1980: 83) dalam Perbandingan Delapan Sistem Musik Dunia, yakni: laras pélog, laras purba, musik Tailand, laras Chr Hugens, musik Internasional, laras musik 17 nada, musik Hindu, dan laras sléndro mengatakan bahwa laras sléndro dan pélog merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Pada skema perbandingan laras ke-8 laras musik dunia tersebut, tempat kedua laras kita itu paling berjauhan. Laras pélog mempunyai kwint yang terkecil yakni, 666 2/3 cent, sedang laras sléndro mempunyai kwint yang terbesar yaitu 720 cent.
Hardjito (2001: 4) mengatakan bahwa laras sléndro memiliki padantara 5 nada per oktaf atau gembyang. Dengan menggunakan sistem notasi kepatihan, kelima nada itu ditulis 1 (ji), 2 (ro), 3 (lo), 5 (ma), dan 6 (nem). Interval nada pada kelima nada laras sléndro relatif sama. Bila satu oktaf berjarak 1200 cent, maka interval nada-nada laras sléndro sekitar 240 cent. Interval nada yang demikian menjadikan laras sléndro memiliki rasa laras khas berbeda dengan tangga nada musik dunia lainnya. Kalau sléndro memiliki 5 nada dalam satu gembyang, laras pélog memiliki 7 nada. Dengan menggunakan sistem notasi kepatihan, nada-nada itu ditulis 1 (ji), 2 (ro), 3 (lo), 4 (pat), 5 (ma), dan 6 (nem), dan 7 (pi). Berbeda dengan sléndro, interval untuk laras pélog tidak berjarak relatif sama, melainkan berbeda-beda. Untuk mema-hami frekuensi dan interval nada secara lengkap periksa Hardjosoebroto (1980) dan Priadi Dwi Harjito (2001).
dikutip dari harmonia.com
[size=14pt]Laras Sléndro Pélog[/size]
Laras dalam dunia karawitan selain untuk menyebut nada juga tangga nada. Laras 1 berarti nada 1, laras 2 berarti nada 2, dan seterusnya. Sedangkan laras pélog berarti tangga nada pélog dan laras sléndro berarti tangga nada sléndro. Laras dalam arti nada adalah bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi yang bergetar dengan kecepatan getar teratur (Jamalus 1988: 16). Jika sumber bunyi bergetar dengan cepat maka bunyi yang dihasilkan tinggi. Jika getaran sumber bunyi itu lambat maka bunyi terdengar rendah. Semua nada musikal terdiri atas empat unsur, yakni: (1) tinggi-rendah nada, (2) panjang-pendek nada, (3) keras-lemah bunyi nada, dan (4) warna suara (Miller 2001: 24). Dalam dunia karawitan notasi sebagai simbul laras disebut titilaras.
Tangga nada oleh Jamalus (1988: 16-17) diartikan sebagai serangkaian nada berurutan dengan perbedaan tertentu membentuk sistem nada. Jika dalam jarak dua nada yang jarak perbandingan frekuensinya dua kali lipat tersusun lima buah nada yang tinggi rendahnya berbeda maka sistem nadanya dinamakan pentatonik, dan urutan nadanya dinamakan tangga nada pentatonik.
Nada-nada dalam laras sléndro dan pélog dikelompokan atas dasar wilayah rasa seleh yang dikenal dengan istilah pathet. Menurut tradisi karawitan gaya Surakarta, dalam laras sléndro dan pélog masing-masing terdapat tiga macam pathet, yakni: sléndro pathet nem, sléndro pathet sanga, dan sléndro pathet manyura, dan pélog pathet lima, pélog pathet nem, serta pélog pathet barang. (Martapangrawit 1975: 28-44, Sri Hastanto 1985).
Pecatatan laras dalam karawitan Jawa menggunakan notasi kepatihan yakni sitem notasi gamelan Jawa yang muncul pada jaman Adipati Sasradiningrat IV masa pemerintahan Pakubhuwana X. Nada-nada pada ga-melan Jawa ditulis dengan menggu-nakan simbol angka satu sampai tujuh. Pembacaan notasi tersebut secara berurutan yakni: 1 dibaca ji, 2 dibaca ro, 3 dibaca lu, 4 dibaca pat, 5 dibaca ma, 6 dibaca nem, dan 7 dibaca pi. Dalam laras sléndro terdapat lima nada, yakni: 1, 2, 3, 5, dan 6, sedang pélog tujuh nada yakni: 1,2, 3, 4, 5, 6, dan 7 (Pradjapangrawit 1990: 169).
Hardjosoebroto (1980: 83) dalam Perbandingan Delapan Sistem Musik Dunia, yakni: laras pélog, laras purba, musik Tailand, laras Chr Hugens, musik Internasional, laras musik 17 nada, musik Hindu, dan laras sléndro mengatakan bahwa laras sléndro dan pélog merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Pada skema perbandingan laras ke-8 laras musik dunia tersebut, tempat kedua laras kita itu paling berjauhan. Laras pélog mempunyai kwint yang terkecil yakni, 666 2/3 cent, sedang laras sléndro mempunyai kwint yang terbesar yaitu 720 cent.
Hardjito (2001: 4) mengatakan bahwa laras sléndro memiliki padantara 5 nada per oktaf atau gembyang. Dengan menggunakan sistem notasi kepatihan, kelima nada itu ditulis 1 (ji), 2 (ro), 3 (lo), 5 (ma), dan 6 (nem). Interval nada pada kelima nada laras sléndro relatif sama. Bila satu oktaf berjarak 1200 cent, maka interval nada-nada laras sléndro sekitar 240 cent. Interval nada yang demikian menjadikan laras sléndro memiliki rasa laras khas berbeda dengan tangga nada musik dunia lainnya. Kalau sléndro memiliki 5 nada dalam satu gembyang, laras pélog memiliki 7 nada. Dengan menggunakan sistem notasi kepatihan, nada-nada itu ditulis 1 (ji), 2 (ro), 3 (lo), 4 (pat), 5 (ma), dan 6 (nem), dan 7 (pi). Berbeda dengan sléndro, interval untuk laras pélog tidak berjarak relatif sama, melainkan berbeda-beda. Untuk mema-hami frekuensi dan interval nada secara lengkap periksa Hardjosoebroto (1980) dan Priadi Dwi Harjito (2001).
dikutip dari harmonia.com
