03-03-2011, 02:14 AM
klo bagi saya,smua hal yang mengenai routing group/cara memixing
cara setting sistem monitor/foh tinggal manusia yang mengoprasikanya.
suka2 si SE/operator yang penting hasil akhirnya enak untuk didengarkan penonton/SE.
hal itu pun masih dipertanyakan apakah hasil akhirnya sudah
sesuai selera si SE,soalnya tidak selalu
selera si SE sama dengan si EO/penonton tertentu.
hal ini pernah saya lihat sendiri waktu dimadiun pernah ada live band dan
dangdut besar dari jakarta dengan ss puluhan ribu watt iklannya.
hasil swaranya bagi sebagian penonton ada yang bilang bagus
tapi ada juga yang bilang kurang bagus malah ada yang nyelethuk
dengan alat ss semewah ini kenapa hasilnya jauh dari kata enak didenger.
hal ini lah yang membuat saya berfikir bahwa seorang SE tidak cukup
hanya dengan pengetauhan alat ss/pendidikan tehnik/jam terbang tinggi
tapi juga harus mengetahui budaya setempat/tempat dia live show,contoh
daerah desa saya sukae denger ss swara keras/kuenceng sampai telinga panas
trus ada juga didesa sebelah sukanya swaranya ss yang empuk tapi kuenceng
trus beda lagi didesa sebelahnya sukanya denger musik yang nuansa islami tapi
yang santai swaranya/jangan kenceng2.dengan kejadian seperti inilah mengapa
saya mengatakan seorang SE/operator harus juga mempelajari budaya setempat.
hal ini untuk menjembatani keinginan smua fihak agar merasa puas meskipun
untuk memuaskan smua fihak ini sulit sekali karena keinginan smua orang
ndak slalu sama dan SE juga dituntut harus bisa memuaskan selera si pemain/EO.
yang kadang selera si pemain/EO kurang disukai penonton tertentu.
permasalahan sound live sangat komplek dan ndak ada habisnya klo
diperdebatkan.tapi dengan smua keruwetan/permasalahan tersebut akan
tercipta sebuah pengalaman yang sangat berguna.maaf oot ^:)^ ^:)^
cara setting sistem monitor/foh tinggal manusia yang mengoprasikanya.
suka2 si SE/operator yang penting hasil akhirnya enak untuk didengarkan penonton/SE.
hal itu pun masih dipertanyakan apakah hasil akhirnya sudah
sesuai selera si SE,soalnya tidak selalu
selera si SE sama dengan si EO/penonton tertentu.
hal ini pernah saya lihat sendiri waktu dimadiun pernah ada live band dan
dangdut besar dari jakarta dengan ss puluhan ribu watt iklannya.
hasil swaranya bagi sebagian penonton ada yang bilang bagus
tapi ada juga yang bilang kurang bagus malah ada yang nyelethuk
dengan alat ss semewah ini kenapa hasilnya jauh dari kata enak didenger.
hal ini lah yang membuat saya berfikir bahwa seorang SE tidak cukup
hanya dengan pengetauhan alat ss/pendidikan tehnik/jam terbang tinggi
tapi juga harus mengetahui budaya setempat/tempat dia live show,contoh
daerah desa saya sukae denger ss swara keras/kuenceng sampai telinga panas
trus ada juga didesa sebelah sukanya swaranya ss yang empuk tapi kuenceng
trus beda lagi didesa sebelahnya sukanya denger musik yang nuansa islami tapi
yang santai swaranya/jangan kenceng2.dengan kejadian seperti inilah mengapa
saya mengatakan seorang SE/operator harus juga mempelajari budaya setempat.
hal ini untuk menjembatani keinginan smua fihak agar merasa puas meskipun
untuk memuaskan smua fihak ini sulit sekali karena keinginan smua orang
ndak slalu sama dan SE juga dituntut harus bisa memuaskan selera si pemain/EO.
yang kadang selera si pemain/EO kurang disukai penonton tertentu.
permasalahan sound live sangat komplek dan ndak ada habisnya klo
diperdebatkan.tapi dengan smua keruwetan/permasalahan tersebut akan
tercipta sebuah pengalaman yang sangat berguna.maaf oot ^:)^ ^:)^
