14-05-2011, 12:25 AM
Setelah sekian lama ditinggal ternyata topik ini belum ada SOLFERS yang kasih pendapat.
Baik deh di sini saya mau coba tanggapin lagi, sebatas yang saya tau.
@Pak Tjandra
Pertama, saya ingat2 rasa antusiasme saya untuk belajar soal dunia persilatan - eh, perkibotan - tumbuh justru setelah masuk ke forum kita ini (Thx to Lae Antoni Pasaribu/ ADMIN, kalo ini saya jujur salut sama Lae :-) ). jadi kata "menggurui" tidak pernah bermakna negatif dalam kamus saya. :-)
Kedua, saya dah lupa maen quote, jadi saya coba jawab sebisa dan se-nyambung mungkin.
Ketiga, kesan negatif yang saya utarakan tempo hari sudah Bapak konfirmasi. Dengan demikian problem solved.
Begini:
1. Soal dynamic range
Di postingan sebelumnya saya tuliskan/ pertanyakan apakah karakteristik suara drum di genre Pop/ Ballad dengan Rock harus serupa feelnya, serta apakah ini menjadi peraturan wajib.
Dan sebagai jawabnya Bapak sarankan saya untuk ngejam atau dengarkan perform live seorang drummer dalam band dari dekat, untuk melihat apakah hentakannya seperti yang saya pikirkan.
Saya juga bisa main drum sedikit, dan sering diminta untuk menjadi additional player untuk band junior/ regenerasi kami di kampus. Ketika dulu band kami baru terbentuk, saya juga main dengan standar Bapak tadi koq. Ga ada bedanya antara Ballad sama Rock, bahkan ego/ keangkuhan saya sering kumat di atas panggung, sampai main headbanging segala.
Nah suatu ketika kami diminta main untuk ibadah yang sifatnya lebih ke meditatif, dan saya pakai cara yang sama (terlepas dari headbanging-nya). Saya ditegur sama penasehat kami, seorang alumnus yang memang mendalami musik gereja. Dia bilang begini: "Kalau seperti itunya cara-ndu (ndu = kamu, bahasa halus suku Karo) main dek, lebih baik Abang bikin dari Fruity Loops aja. Abang butuh orang yang mampu merasakan pesan lagu ini dek, bukan orang yang menguasai segudang skill. Jadi biarkan lagunya meresap ke hatimu".
Nah inilah yang membentuk karakter saya hingga sekarang, makanya dalam bermain drum maupun membuat song atau style saya lebih menyukai hentakan/ velocity yang kecil2 untuk Ballad (katakanlah untuk Var A dan B, semakin ke D semakin tinggi velocitynya). Saya memang tidak begitu memahami parameter lain selain velocity. Namun urusan velocity ini saya sangat concern, yah itu karena hasil dari pendidikan yang saya dapat.
Jadi dalam hal ini sudut pandang kita berseberangan Pak, dan saya sangat menghormati keberseberangan ini.
2. Soal wajib atau tidaknya drum kit tertentu untuk tiap genre.
Sesuai saran Bapak, saya periksa dan ternyata betul bahwa dalam beberapa style Ballad saja bisa beda2 drum kit nya, sementara kalau main live 'kan tidak mungkin seperti itu.
Saya jadi ingin tau apakah hanya Yamaha saja yang seperti ini. Dan di lain pihak saya pikir Bapak juga setuju bahwa keyboard merk apapun mencoba merangsang kreatifitas user dengan menghadirkan drum kit yang berbeda2 dalam setiap preset style-nya.
Trus kalau memang Bapak berpegang pada prinsip di atas, tentu Bapak akan menggunakan satu drum kit saja untuk membuat style apapun, misalnya yang saya perhatikan User Kit di KN7000 (tapi saya ga tau ya Pak apakah KN7000 yang saya pegang tu dah diedit) yang cenderung lebih real dibanding kit2 yang lain di KN tersebut.
Nah, dengan demikian siapapun yang mengikuti standart Bapak tentu akan melakukan hal yang sama. Dan untuk yang memilih jalan lain, akan bereksperimen menggunakan kit yang ada. Belum lagi seperti yang Bapak katakan kalau sudah masuk Sound System hasilnya bisa beda. Jika Drum Kit nya dirasa kurang sreg setelah di out, user bisa saja menggantinya.
3. Keyboard = Live Perform?
Tapi Pak (mohon maaf ini hanya pemikiran singkat dan penasaran saya pribadi), merujuk pada pendapat Bapak di mana kita membeli keyboard tujuannnya untuk menghadirkan musik yang seakan2 menghadirkan full band lengkap sehingga kita berharap sama dengan keyboard yg kita gunakan, maka saya sendiri tidak begitu berharap Pak.
Kenapa?
Karena justru merujuk pada tulisan Bapak di postingan sebelumnya, di mana out dari Keyboard hanya ada 2 yakni Mono atau Stereo kiri kanan. Saya membayangkan seandainya out nya ada 16 lubang menurut jumlah channel Midi yang 16 itu atau minimal 8 channel layaknya pada style , maka kita tinggal mengatur letak masing2 Ampli/ Speaker di atas panggung, untuk mensimulasikan suasana seolah2 berada di musik live. Tapi berhubung yang ada out nya cuma 2, kesan live hanya bisa saya dapatkan jika menggunakan Headphone dan mengandalkan pengaturan Panning, ke kiri atau ke kanan.
Mohon pencerahannya.
Tambahan (Minggu, 15 Mei 2011)
Sabtu kemarin saya mengikuti acara satu keluarga/ Marga. Mereka menyewa band, dan kebetulan mereka pakai keyboard. Saya denger2 permainannya, juga standard banged, bahkan untuk seorang sekelas Pak Tjandra atau Lae Antoni bisa dibikinkan stylenya dengan mudah. Kalau permainannya seperti itu saya pikir ngapain mahal2 nyewa 1 band lengkap? Trus waktu giliran personil2nya makan, ada anggota mereka yang mainkan style di keyboard tadi, dan rasanya memang berbeda.
4. Soal Multiband Procesor
Ini mungkin sejalan dengan nomor 3 di atas, karena sumber suara sudah menyatu. Dengan demikian saya tidak tahu apakah saya masih bisa berharap mendapatkan kesan live seperti yang Bapak utarakan? Mengenai ini pun timbul rasa penasaran saya untuk berbincang bersama Bang Ihut. Mungkin waktunya saja yang belum dapet, tapi nanti kalau jadi jumpa tentu Bang Ihut mau berbagi ilmu dengan saya, biar saya yang posting nantinya. (Ate Bang? :D )
5. Topik utama: Bad design di fill in ketukan pertama
Saya sudah buktikan temuan Bapak, memang kalau fill in ditekan di ketukan kedua, maka hanya drum nya yang jalan, sementara track lain tetap pada Variation/ Main yang aktif.
Nah, andai saya katakan solusinya dengan meniru jawaban Bapak soal fill di Keyboard lain yang saya sebutkan sebelumnya, maka dengan mudahnya saya ‘kan bisa bilang:"Mangkenye hindari dong menekan di ketukan tersebut". Tentu kalimat ini kurang puas kita menerimanya.
Selain itu timbul pertanyaan: Apa iya kita benar2 bisa menekan fill precisely di ketukan pertama sehingga semua track nya betul2 track fill tersebut yang jalan? Apalagi saat live, apalagi saat pindah Bar? Secara tangan kanan sibuk bermain melody? Atau dengan kata lain, bisakah kita benar2 menghindari "cacat" ini saat menekan Fill?
Jawabnya:[size=14pt]BISA[/size], walau tidak benar2 pas di ketukan pertama. Tapi asalkan belum masuk di ketukan kedua, semua track pada fill benar2 berjalan. Saya sendiri sudah coba pada tempo 130, menekan fill sambil pindah Bar hanya dengan tangan kiri, dan bisa. So silakan rekan2 SOLFERS yang lain mencobanya
Tapi izinkan saya melihatnya dari sisi lain: Kalau Bapak melihat ini sebagai cacat design, saya jadi penasaran: Apakah cacat ini bisa kita jadikan peluang?
Contohnya begini:
Katakanlah saya sudah membiasakan diri dan terlatih menggunakan teknik fiil in yang meniru Rolad sebagaimana video yang Bapak tunjukkan, dari Main B menekan fill B dulu sebelum pindah ke Main C. Dalam style Ballad buatan saya tersebut, Main A dan B masih sepi, serta Main C dan D semakin rame.
Seandainya Yamaha telah mengikuti saran dari Bapak (yakni pada ketukan berapapun yang ditekan, track di fill jalan semuanya). Misalnya kita buat fill dengan komposisi yang unik, yang secara aransemen lumayan jauh beda dengan Main asalnya di B maupun Main yang dituju di C, katakanlah kita sisipkan permainan Distortion Gitar dalam fill tersebut, atau yang lain2 nya terserah deh. Bayangkan seandainya kita Fill di ketukan ketiga, maka Main B yang sebelumnya sepi tiba2 melonjak menjadi rame di ketukan ketiga tersebut. Bukankah ini yang malah bikin cacat?
Jika dihubungkan ke design Yamaha ini, maka saya melihat “cacad” ini justru menjadi peluang. Di mana berdasarkan apa yang saya pikirkan di atas maka dengan demikian Yamaha mempunyai 2 Fill untuk masing2 Main/ Var nya, yang satu hanya track drum nya saja, yang satu lagi Fill yang betul2 full track.Jangan2 Yamaha memang sengaja mendesign sedemikian rupa dengan tujuan ini. Belum lagi yang saya lihat di lapangan banyak pembuat style yang hanya membuat track drum untuk fill nya, sementara track lain tinggal dikopi dari Main/ Var yang ada. Jika benar demikian, maka saya pikir ini justru membuat Yamaha menjadi unik, dan meminjam bahasa Bang Kortal Nadeak, produk yang unik, ini yang di cari orang.
6. Soal lonjakan Aransemen
Sebagaimana yang saya katakan di atas, saya mengikuti dan mulai terbiasa dengan versi Bapak, yakni saat hendak pindah Main/ Var, tekanlah Fill dari Main asalnya bukan dari Main yang dituju. Saya pikir Yamaha kelas manapun baik yang Premium maupun menengah kebawah (sebagaimana yang yang Bapak tuliskan warna Hijau, Bold pula, dan [size=24pt][color=limegreen]Besar[/size] pula, waah saya salut Bapak punya psychic power untuk mengetahui kalau saya hanya pakai kelas premium, hehe… Tenang Pak saya juga sering koq megang Yamaha low-end), sekalipun cuma ada 2 Main/ Var, selama memiliki tombolnya sendiri2 hal ini memungkinkan untuk dilakukan. Yang sulit adalah jika kita berjumpa dengan Yamaha low-end (seri berapa saya lupa), yang hanya punya satu tombol tunggal untuk mewakili Main A/B beserta fillnya, karena ketika kita di Main A lalu menekan fill maka yang hidup adalah Fill B lalu pindah ke B. (Untuk Main A fill ke Main A, maka kita harus tekan tombol tersebut 2x, intinya dua kali kerja).
Terlepas dari hal itu, saya rasa tidak ada salahnya kalau sesekali ada lonjakan, karena bagi saya memberi unsur kejutan dalam membuat lagu justru memberi kesan tersendiri dalam bermusik.
Begitulah yang saya pikirkan.
Baik deh di sini saya mau coba tanggapin lagi, sebatas yang saya tau.
@Pak Tjandra
Pertama, saya ingat2 rasa antusiasme saya untuk belajar soal dunia persilatan - eh, perkibotan - tumbuh justru setelah masuk ke forum kita ini (Thx to Lae Antoni Pasaribu/ ADMIN, kalo ini saya jujur salut sama Lae :-) ). jadi kata "menggurui" tidak pernah bermakna negatif dalam kamus saya. :-)
Kedua, saya dah lupa maen quote, jadi saya coba jawab sebisa dan se-nyambung mungkin.
Ketiga, kesan negatif yang saya utarakan tempo hari sudah Bapak konfirmasi. Dengan demikian problem solved.
Begini:
1. Soal dynamic range
Di postingan sebelumnya saya tuliskan/ pertanyakan apakah karakteristik suara drum di genre Pop/ Ballad dengan Rock harus serupa feelnya, serta apakah ini menjadi peraturan wajib.
Dan sebagai jawabnya Bapak sarankan saya untuk ngejam atau dengarkan perform live seorang drummer dalam band dari dekat, untuk melihat apakah hentakannya seperti yang saya pikirkan.
Saya juga bisa main drum sedikit, dan sering diminta untuk menjadi additional player untuk band junior/ regenerasi kami di kampus. Ketika dulu band kami baru terbentuk, saya juga main dengan standar Bapak tadi koq. Ga ada bedanya antara Ballad sama Rock, bahkan ego/ keangkuhan saya sering kumat di atas panggung, sampai main headbanging segala.
Nah suatu ketika kami diminta main untuk ibadah yang sifatnya lebih ke meditatif, dan saya pakai cara yang sama (terlepas dari headbanging-nya). Saya ditegur sama penasehat kami, seorang alumnus yang memang mendalami musik gereja. Dia bilang begini: "Kalau seperti itunya cara-ndu (ndu = kamu, bahasa halus suku Karo) main dek, lebih baik Abang bikin dari Fruity Loops aja. Abang butuh orang yang mampu merasakan pesan lagu ini dek, bukan orang yang menguasai segudang skill. Jadi biarkan lagunya meresap ke hatimu".
Nah inilah yang membentuk karakter saya hingga sekarang, makanya dalam bermain drum maupun membuat song atau style saya lebih menyukai hentakan/ velocity yang kecil2 untuk Ballad (katakanlah untuk Var A dan B, semakin ke D semakin tinggi velocitynya). Saya memang tidak begitu memahami parameter lain selain velocity. Namun urusan velocity ini saya sangat concern, yah itu karena hasil dari pendidikan yang saya dapat.
Jadi dalam hal ini sudut pandang kita berseberangan Pak, dan saya sangat menghormati keberseberangan ini.
2. Soal wajib atau tidaknya drum kit tertentu untuk tiap genre.
Sesuai saran Bapak, saya periksa dan ternyata betul bahwa dalam beberapa style Ballad saja bisa beda2 drum kit nya, sementara kalau main live 'kan tidak mungkin seperti itu.
Saya jadi ingin tau apakah hanya Yamaha saja yang seperti ini. Dan di lain pihak saya pikir Bapak juga setuju bahwa keyboard merk apapun mencoba merangsang kreatifitas user dengan menghadirkan drum kit yang berbeda2 dalam setiap preset style-nya.
Trus kalau memang Bapak berpegang pada prinsip di atas, tentu Bapak akan menggunakan satu drum kit saja untuk membuat style apapun, misalnya yang saya perhatikan User Kit di KN7000 (tapi saya ga tau ya Pak apakah KN7000 yang saya pegang tu dah diedit) yang cenderung lebih real dibanding kit2 yang lain di KN tersebut.
Nah, dengan demikian siapapun yang mengikuti standart Bapak tentu akan melakukan hal yang sama. Dan untuk yang memilih jalan lain, akan bereksperimen menggunakan kit yang ada. Belum lagi seperti yang Bapak katakan kalau sudah masuk Sound System hasilnya bisa beda. Jika Drum Kit nya dirasa kurang sreg setelah di out, user bisa saja menggantinya.
3. Keyboard = Live Perform?
Tapi Pak (mohon maaf ini hanya pemikiran singkat dan penasaran saya pribadi), merujuk pada pendapat Bapak di mana kita membeli keyboard tujuannnya untuk menghadirkan musik yang seakan2 menghadirkan full band lengkap sehingga kita berharap sama dengan keyboard yg kita gunakan, maka saya sendiri tidak begitu berharap Pak.
Kenapa?
Karena justru merujuk pada tulisan Bapak di postingan sebelumnya, di mana out dari Keyboard hanya ada 2 yakni Mono atau Stereo kiri kanan. Saya membayangkan seandainya out nya ada 16 lubang menurut jumlah channel Midi yang 16 itu atau minimal 8 channel layaknya pada style , maka kita tinggal mengatur letak masing2 Ampli/ Speaker di atas panggung, untuk mensimulasikan suasana seolah2 berada di musik live. Tapi berhubung yang ada out nya cuma 2, kesan live hanya bisa saya dapatkan jika menggunakan Headphone dan mengandalkan pengaturan Panning, ke kiri atau ke kanan.
Mohon pencerahannya.
Tambahan (Minggu, 15 Mei 2011)
Sabtu kemarin saya mengikuti acara satu keluarga/ Marga. Mereka menyewa band, dan kebetulan mereka pakai keyboard. Saya denger2 permainannya, juga standard banged, bahkan untuk seorang sekelas Pak Tjandra atau Lae Antoni bisa dibikinkan stylenya dengan mudah. Kalau permainannya seperti itu saya pikir ngapain mahal2 nyewa 1 band lengkap? Trus waktu giliran personil2nya makan, ada anggota mereka yang mainkan style di keyboard tadi, dan rasanya memang berbeda.
4. Soal Multiband Procesor
Ini mungkin sejalan dengan nomor 3 di atas, karena sumber suara sudah menyatu. Dengan demikian saya tidak tahu apakah saya masih bisa berharap mendapatkan kesan live seperti yang Bapak utarakan? Mengenai ini pun timbul rasa penasaran saya untuk berbincang bersama Bang Ihut. Mungkin waktunya saja yang belum dapet, tapi nanti kalau jadi jumpa tentu Bang Ihut mau berbagi ilmu dengan saya, biar saya yang posting nantinya. (Ate Bang? :D )
5. Topik utama: Bad design di fill in ketukan pertama
Saya sudah buktikan temuan Bapak, memang kalau fill in ditekan di ketukan kedua, maka hanya drum nya yang jalan, sementara track lain tetap pada Variation/ Main yang aktif.
Nah, andai saya katakan solusinya dengan meniru jawaban Bapak soal fill di Keyboard lain yang saya sebutkan sebelumnya, maka dengan mudahnya saya ‘kan bisa bilang:"Mangkenye hindari dong menekan di ketukan tersebut". Tentu kalimat ini kurang puas kita menerimanya.
Selain itu timbul pertanyaan: Apa iya kita benar2 bisa menekan fill precisely di ketukan pertama sehingga semua track nya betul2 track fill tersebut yang jalan? Apalagi saat live, apalagi saat pindah Bar? Secara tangan kanan sibuk bermain melody? Atau dengan kata lain, bisakah kita benar2 menghindari "cacat" ini saat menekan Fill?
Jawabnya:[size=14pt]BISA[/size], walau tidak benar2 pas di ketukan pertama. Tapi asalkan belum masuk di ketukan kedua, semua track pada fill benar2 berjalan. Saya sendiri sudah coba pada tempo 130, menekan fill sambil pindah Bar hanya dengan tangan kiri, dan bisa. So silakan rekan2 SOLFERS yang lain mencobanya
Tapi izinkan saya melihatnya dari sisi lain: Kalau Bapak melihat ini sebagai cacat design, saya jadi penasaran: Apakah cacat ini bisa kita jadikan peluang?
Contohnya begini:
Katakanlah saya sudah membiasakan diri dan terlatih menggunakan teknik fiil in yang meniru Rolad sebagaimana video yang Bapak tunjukkan, dari Main B menekan fill B dulu sebelum pindah ke Main C. Dalam style Ballad buatan saya tersebut, Main A dan B masih sepi, serta Main C dan D semakin rame.
Seandainya Yamaha telah mengikuti saran dari Bapak (yakni pada ketukan berapapun yang ditekan, track di fill jalan semuanya). Misalnya kita buat fill dengan komposisi yang unik, yang secara aransemen lumayan jauh beda dengan Main asalnya di B maupun Main yang dituju di C, katakanlah kita sisipkan permainan Distortion Gitar dalam fill tersebut, atau yang lain2 nya terserah deh. Bayangkan seandainya kita Fill di ketukan ketiga, maka Main B yang sebelumnya sepi tiba2 melonjak menjadi rame di ketukan ketiga tersebut. Bukankah ini yang malah bikin cacat?
Jika dihubungkan ke design Yamaha ini, maka saya melihat “cacad” ini justru menjadi peluang. Di mana berdasarkan apa yang saya pikirkan di atas maka dengan demikian Yamaha mempunyai 2 Fill untuk masing2 Main/ Var nya, yang satu hanya track drum nya saja, yang satu lagi Fill yang betul2 full track.Jangan2 Yamaha memang sengaja mendesign sedemikian rupa dengan tujuan ini. Belum lagi yang saya lihat di lapangan banyak pembuat style yang hanya membuat track drum untuk fill nya, sementara track lain tinggal dikopi dari Main/ Var yang ada. Jika benar demikian, maka saya pikir ini justru membuat Yamaha menjadi unik, dan meminjam bahasa Bang Kortal Nadeak, produk yang unik, ini yang di cari orang.
6. Soal lonjakan Aransemen
Sebagaimana yang saya katakan di atas, saya mengikuti dan mulai terbiasa dengan versi Bapak, yakni saat hendak pindah Main/ Var, tekanlah Fill dari Main asalnya bukan dari Main yang dituju. Saya pikir Yamaha kelas manapun baik yang Premium maupun menengah kebawah (sebagaimana yang yang Bapak tuliskan warna Hijau, Bold pula, dan [size=24pt][color=limegreen]Besar[/size] pula, waah saya salut Bapak punya psychic power untuk mengetahui kalau saya hanya pakai kelas premium, hehe… Tenang Pak saya juga sering koq megang Yamaha low-end), sekalipun cuma ada 2 Main/ Var, selama memiliki tombolnya sendiri2 hal ini memungkinkan untuk dilakukan. Yang sulit adalah jika kita berjumpa dengan Yamaha low-end (seri berapa saya lupa), yang hanya punya satu tombol tunggal untuk mewakili Main A/B beserta fillnya, karena ketika kita di Main A lalu menekan fill maka yang hidup adalah Fill B lalu pindah ke B. (Untuk Main A fill ke Main A, maka kita harus tekan tombol tersebut 2x, intinya dua kali kerja).
Terlepas dari hal itu, saya rasa tidak ada salahnya kalau sesekali ada lonjakan, karena bagi saya memberi unsur kejutan dalam membuat lagu justru memberi kesan tersendiri dalam bermusik.
Begitulah yang saya pikirkan.
