14-05-2011, 12:33 AM
7. Perenungan Saya/ Lain2:
a. Musik: Bebas, atau Wajib? Mitos atau Pilihan Selera?
Saya jadi merenung sendiri, apakah dalam bermusik kita mempunyai banyak pilihan, atau harus dipagari sejumlah peraturan wajib? Setelah saya melihat ternyata ada perbedaan sudut pandang dalam hal ini misalnya, bahkan sampai adanya misi untuk mematahkan mitos, saya jadi bertanya2, apakah ini Mitos, atau sekedar Pilihan Selera?
b. Cacat atau Keunikan? Hambatan atau Peluang?
Sepertinya ada banyak “cacat” di Yamaha yang bisa kita akalin justru menjadi bumbu penyedap dalam dunia Perkibotan. Misalnya saja cacat di Chord 7 kan bisa dibetulin di bagian Parameter. Kita bisa set root chordnya menjadi C maj. Dan merujuk pada tulisan Lae ADMIN soal Chord CM7, maka ini menjadi keunikan di mana salah satu track kita setting Chord M7, sementara track lain cuek z di C maj. Nah kalau Fill nya cuma mentok 1 bar, kita bisa buatkan fill nya di tombol Intro saja, sementara di Fill tersebut kita samakan saja dengan Main asalnya. Dan mungkin masih ada temuan2 lain yang bisa kita manfaatkan. Nah sekali lagi, ini cacat atau keunikan? hambatan atau peluang?
c. Pilih song atau style?
Yah kalau memang sudah begitu situasi di pasaran mau bilang apalagi Pak? Saya pikir penyebabnya tak lain adalah karena lagu2 yang beredar sekarang (Katakanlah mulai zaman Ian Keselek a.k.a Raja) cenderung lagu2 yang musiman, ketika habis masanya, yah akhirnya menjadi another abandonia, ditinggalkan. Keuntungannya memang play otomatis, namun kekurangannya jika si penyanyi ga tau lagunya mau diulangi dari mana atau bait berapa. Mau g mau kita terima kenyataan ini Pak, tapi kiranya Bapak tidak bosan berkarya maupun menjelaskan hal ini pada pelanggan Bapak.
d. Mencerahkan: Gembala atau Hakim? Memotivasi atau Menjatuhkan?
Terimakasih bahwa Bapak bermaksud untuk mencerahkan dalam setiap tulisan yang Bapak buat. Namun sekali lagi mohon maaf Pak, saya lihat2 lagi katakanlah khusus di topik ini saja koq rasa2nya Bapak tidak ada memberikan satupun saran yang membangun sama sekali? Yang ada malah setiap usul yang saya tuliskan mendapat komentar yang bernada pesimistis, butir demi butir. Ini susah lah, repot lah, tidak semua yang tau lah, implementasinya tidak mudah lah, dsb. Atau tindakan lain dari rekan lain seperti nyelonong2 trus bilang “Yamaha zaman nabi Adam sampai Parousia tetap suara saja suara kaleng”, trus sebelum kabur diakhiri dengan IMHO, no hard feelings, dsb. Secara indikatif (edukatif?) Bapak sudah jelaskan ini loh bad design Yamaha, namun kalau dah begini ceritanya rasa2nya saya tidak menemukan pesan imperatif lain dari Bapak selain "Tinggalkan Yamaha". Saya pikir ini justru tindakan yang tidak membangun dalam suatu forum. Sayang sekali Pak, ini sungguh suatu respon yang jauh dari ekspektasi saya, yang saya harapkan terucap dari seorang senior se-senior Pak Tjandra.
Atau, mari kita buat diskusi ini lebih mudah. Bolehkah Bapak bagikan Style “Tak Gendong” yang Bapak katakan gubrak2 itu? Ajarin kami Pak, apa2 saja yang Bapak edit di situ? Biar nanti saya jadiin pedoman kalau pengen bikin style yang menghentak, yah minimal mendekati live lah.
e. Realism Oriented atau Composition Oriented?
Salah satu major issue dalam membicarakan Yamaha adalah persoalan suaranya real atau tidak real. Di awal tulisan saya katakan kalau sudah begiru geregetan pengen sound yang real, maka Sound Sample (untuk keyboard yang sudah kompatible) mungkin menjadi solusi. Hanya, lagi2 Bapak katakan implementasinya susah, tanpa pernah menyumbangkan sedikit tulisan soal itu kepada para solfers (Padahal itu yang saya tunggu2 dari Pak Tjandra, jika memang seperti yang Bapak katakan, demi alasan edukasi).
Saya ga bisa komentar banyak tentang hal ini, karena pengetahuan saya pun masih ancur2an, tapi di sini saya kutip sedikit tulisan Lae Antoni Pasaribu sebagai gambaran untuk kita:
e. Bersyukur dalam proses pembelajaran yang lambat.
Saya sudah dengarkan contoh MP3 yang Bapak kasih, dan jujur dengan kemampuan yang begitu terbatas saya kurang mampu mendeteksi aransemen aneh yang Bapak maksudkan, barulah setelah membaca tulisan Bimo saya menemukannya. Tapi setelah saya renungkan saya jadi bersyukur dengan keterbatasan wawasan saya ini. Selama ada kemauan untuk belajar, tidak masalah. Soalnya, jika seandainya Tuhan memberi wawasan tinggi soal musik atau memasukkan saya ke sekolah musik dan bukannya seperti saya yang sekarang, jangan2 saya terjerumus – dan menghabiskan hidup saya – dengan menganalisa kekurangan dan cacat pada setiap lagu, tanpa pernah bisa menikmatinya.
Begitulah yang saya renungkan.
a. Musik: Bebas, atau Wajib? Mitos atau Pilihan Selera?
Saya jadi merenung sendiri, apakah dalam bermusik kita mempunyai banyak pilihan, atau harus dipagari sejumlah peraturan wajib? Setelah saya melihat ternyata ada perbedaan sudut pandang dalam hal ini misalnya, bahkan sampai adanya misi untuk mematahkan mitos, saya jadi bertanya2, apakah ini Mitos, atau sekedar Pilihan Selera?
b. Cacat atau Keunikan? Hambatan atau Peluang?
Sepertinya ada banyak “cacat” di Yamaha yang bisa kita akalin justru menjadi bumbu penyedap dalam dunia Perkibotan. Misalnya saja cacat di Chord 7 kan bisa dibetulin di bagian Parameter. Kita bisa set root chordnya menjadi C maj. Dan merujuk pada tulisan Lae ADMIN soal Chord CM7, maka ini menjadi keunikan di mana salah satu track kita setting Chord M7, sementara track lain cuek z di C maj. Nah kalau Fill nya cuma mentok 1 bar, kita bisa buatkan fill nya di tombol Intro saja, sementara di Fill tersebut kita samakan saja dengan Main asalnya. Dan mungkin masih ada temuan2 lain yang bisa kita manfaatkan. Nah sekali lagi, ini cacat atau keunikan? hambatan atau peluang?
c. Pilih song atau style?
Yah kalau memang sudah begitu situasi di pasaran mau bilang apalagi Pak? Saya pikir penyebabnya tak lain adalah karena lagu2 yang beredar sekarang (Katakanlah mulai zaman Ian Keselek a.k.a Raja) cenderung lagu2 yang musiman, ketika habis masanya, yah akhirnya menjadi another abandonia, ditinggalkan. Keuntungannya memang play otomatis, namun kekurangannya jika si penyanyi ga tau lagunya mau diulangi dari mana atau bait berapa. Mau g mau kita terima kenyataan ini Pak, tapi kiranya Bapak tidak bosan berkarya maupun menjelaskan hal ini pada pelanggan Bapak.
d. Mencerahkan: Gembala atau Hakim? Memotivasi atau Menjatuhkan?
Terimakasih bahwa Bapak bermaksud untuk mencerahkan dalam setiap tulisan yang Bapak buat. Namun sekali lagi mohon maaf Pak, saya lihat2 lagi katakanlah khusus di topik ini saja koq rasa2nya Bapak tidak ada memberikan satupun saran yang membangun sama sekali? Yang ada malah setiap usul yang saya tuliskan mendapat komentar yang bernada pesimistis, butir demi butir. Ini susah lah, repot lah, tidak semua yang tau lah, implementasinya tidak mudah lah, dsb. Atau tindakan lain dari rekan lain seperti nyelonong2 trus bilang “Yamaha zaman nabi Adam sampai Parousia tetap suara saja suara kaleng”, trus sebelum kabur diakhiri dengan IMHO, no hard feelings, dsb. Secara indikatif (edukatif?) Bapak sudah jelaskan ini loh bad design Yamaha, namun kalau dah begini ceritanya rasa2nya saya tidak menemukan pesan imperatif lain dari Bapak selain "Tinggalkan Yamaha". Saya pikir ini justru tindakan yang tidak membangun dalam suatu forum. Sayang sekali Pak, ini sungguh suatu respon yang jauh dari ekspektasi saya, yang saya harapkan terucap dari seorang senior se-senior Pak Tjandra.
Atau, mari kita buat diskusi ini lebih mudah. Bolehkah Bapak bagikan Style “Tak Gendong” yang Bapak katakan gubrak2 itu? Ajarin kami Pak, apa2 saja yang Bapak edit di situ? Biar nanti saya jadiin pedoman kalau pengen bikin style yang menghentak, yah minimal mendekati live lah.
e. Realism Oriented atau Composition Oriented?
Salah satu major issue dalam membicarakan Yamaha adalah persoalan suaranya real atau tidak real. Di awal tulisan saya katakan kalau sudah begiru geregetan pengen sound yang real, maka Sound Sample (untuk keyboard yang sudah kompatible) mungkin menjadi solusi. Hanya, lagi2 Bapak katakan implementasinya susah, tanpa pernah menyumbangkan sedikit tulisan soal itu kepada para solfers (Padahal itu yang saya tunggu2 dari Pak Tjandra, jika memang seperti yang Bapak katakan, demi alasan edukasi).
Saya ga bisa komentar banyak tentang hal ini, karena pengetahuan saya pun masih ancur2an, tapi di sini saya kutip sedikit tulisan Lae Antoni Pasaribu sebagai gambaran untuk kita:
Antoni Pasaribu link=topic=5132.msg80929#msg80929 date=1304162983 Wrote:kuncinya : OPTIMALISASI
Saya sudah coba berbagai macam keyboard, dan ga ada satupun yang benar-benar bikin saya puas.
Semuanya ada kelebihan dan kekurangan.
Tapi kl selalu melihat ke sisi kekurangan, yaaahhhhhhhhh ga bakal pernah ketemu kelebihannya.
Saya bikin beberapa video dengan Yamaha (kebetulan ada Yamaha milik pemerintahan yg parkir di rumah saya) cuma mau menunjukkan beberapa optimasi yang bisa saya lakukan (kl ada casio, saya juga akan coba).
Contohnya dari style dangdut yg saya buat dan mainkan tersebut, yg bikin saya kaget, malah banyak yg "surprised" dengan sounds yang saya mainkan :-?? baik sound sulingnya, gitarnya, strings sampe ke stylenya. berarti, banyak yg belum optimal memanfaatkan PSR miliknya.
Kalo belum mengoptimalkan, jangan dulu menyudutkan sisi kelemahannya.
Kalau mau fair, tanpa utak atik sana sini, tanpa edit ini itu, dari berbagai merk keyboard yg selevel, Yamaha PSR berani saya kategorikan yang TERBAIK & TERMUDAH untuk diaplikasikan dalam kondisi live.
Tapi karna parameternya Dangdut, keyboard manapun ga ada yg bagus :))
Kenapa???
Karna dari Indonesianya sendiri (mungkin) tidak merekomendasikan sound yang dibutuhkan Indonesia kepada pabrikan keyboard. atau memang pabrikannya yg tidak mengabulkan permintaan dari Indonesia.
Mau bilang KORG yg terbaik untuk Dangdut??
Yg kita dengar di Korg itu, bunyi tabla, bukan bunyi gendang dangdut yg biasa dimainkan di pentas2 dangdut.
Technics untuk dangdut????
Ahhhhhhh bohonngggg :))
Sampe sekarang, setelah saya coba dan dengar2 dari editan teman-teman, tidak ada yang benar2 berbunyi gendang dangdut.
Roland, Yamaha, Casio???
Yang drumnya bisa di edit aja ga nemu, apalagi kl keyboardnya ga punya drum edit :))
Jadi, yang terjadi cuma : PENDEKATAN KARAKTER ke posisi yang diinginkan.
Technics dan Korg yg paling mendekati??? bisa jadi, tapi apakah pernah melihat sisi lain saat proses pembuatannya? RIBETTTTTTTT...... MENGHABISKAN WAKTUUUUUU..........PUSING,,,,,,,, ~X(
Hanya membuat bunyi TAK dan DUT yang lumayan mendekati aja, bisa menghabiskan waktu berjam-jam (bersyukurlah bagi kawan2 yang cuma mendownload & ga pernah bikin/share).
Semuanya setimpal.
Mau mendekati, ada konsekuensi waktu, konsentrasi, dan referensi yang harus disiapkan.
mau sederhana tanpa mendekati suara seperti aslinya, berarti harus pintar-pintar memuaskan diri dengan yg didengarkan :D
Terlepas dari yang saya tulis di atas, di bagian final, kita kembalikan ke AUDIENCE (mayoritas).
Apakan audience (awam) mayoritas benar2 pernah protes kalo suaranya ga seperti alat-alat aslinya?
sepengalaman saya : TIDAK PERNAH.
Yang paling penting adalah : KOMPOSISI STYLEnya. \m/
Yang dangdut, benar2 komposisi dangdut, sehingga yang menyanyikan dengan diiringi style tersebut, benar2 merasakan feel dangdut.
Mau bunyi TAK-nya seperti kaleng, ember, gelas, besi, ga pernah masalah tuhhhh.
Tapi kl soundnya udah mirip sama gendang asli, tapi pukulan gendangnya ga seperti bermain dangdut, sama aja bohong \m/
dan yang ga kalah pentingnya : TINGKATKAN SKILL BERMAIN KEYBOARDnya :D
e. Bersyukur dalam proses pembelajaran yang lambat.
Saya sudah dengarkan contoh MP3 yang Bapak kasih, dan jujur dengan kemampuan yang begitu terbatas saya kurang mampu mendeteksi aransemen aneh yang Bapak maksudkan, barulah setelah membaca tulisan Bimo saya menemukannya. Tapi setelah saya renungkan saya jadi bersyukur dengan keterbatasan wawasan saya ini. Selama ada kemauan untuk belajar, tidak masalah. Soalnya, jika seandainya Tuhan memberi wawasan tinggi soal musik atau memasukkan saya ke sekolah musik dan bukannya seperti saya yang sekarang, jangan2 saya terjerumus – dan menghabiskan hidup saya – dengan menganalisa kekurangan dan cacat pada setiap lagu, tanpa pernah bisa menikmatinya.
Begitulah yang saya renungkan.
