29-02-2012, 10:32 PM
Tommykwitang timestamp='1286098837' post='8451 Wrote:Kalau begitu jangan dikategorikan usaha, tapi jadikan badan sosial aja. Jadi setiap tamu yg datang boleh nyumbang semampunya diluar bayaran dari pemilik hajat. Pasang keropak dekat mixer dan maklumat agar pengunjung membaca lalu ingin menyumbang.sangat..sangat se-7 gan...mari kita mulai menghargai diri kita dulu. Mulai dari penampilan : dlm acr resmi berbaju batik, clana yg sesuai, kaki dibungkus(alias bersepatu).
Seperti bidan eh biduan yang terima saweran dari pengunjung yg ikut joget dipanggung. Ternyata sawerannya bisa lebih besar dari honor menyanyinya nyo nyu nye.
Bayangkan seorang pengusaha dengan modal dan resiko besar hanya dapat 100rb utk kerja 2 hari, 1bulan hanya bisa dapat berapa kali?. Tukang bangunan hanya modal palu, gergaji, pacul, ketam, dll yg harganya murah dan tahan bertahun-tahun bisa mendapatkan 100rb~200rb tergantung lokasi kerjanya. Jarang pula tukang bangunan yang hanya dapat kerjaan hanya 2 hari, paling sedikit mereka dapat 1 minggu bahkan bisa sampai 3 bulan dalam 1 proyek kecil.
Coba kita lihat tukang becak, tukang ojek, supir bajaj atau semacamnya. Mereka kompak untuk menolak tawaran dibawah nilai tertentu, kalau ada yg melanggar bisa digebukin teman2nya. Saya mengamati dan meneliti tukang ngamen, anak kecil 8tahun ngamen sendiri dengan botol aqua diisi batu kerikil sehari minimal mendapatkan 75rb, dan kalau dapat segitu mereka menggerutu, krn biasanya dapat antara 150rb`200rb/hari katanya. Saya coba hitung jumlah penumpang yg memberi rata2 dan berapa kali naik turun bis kota dlm sehari, memang pendapatan segitu sangat masuk akal. Apakah dengan merendahkan martabat diri kita berarti kita telah mengamalkan Pancasila sila kelima? bagaimana dengan masa depan anak2 kita? Apakah akan jadi beban sosial bagi bangsa kita?
Apakah ilmu yang kita miliki sama sekali tak ada nilainya dimata orang banyak, kalau begitu kita pensiun saja dan beralih kebidang lain, sedangkan sound system kita jadikan hobby untuk kesenangan sendiri yg dananya didapat dari profesi yg lain yg lebih menjanjikan. Saya amati dokter bisa sangat berkuasa dengan IDInya, mereka bisa melarang orang miskin masuk rumah sakit, kecuali simiskin mengerti cara menempuh prosedur ber-belit2 agar bisa mendapat stempel "ORANG MISKIN". Apakah kita tak bisa bergabung seperti organisasi profesi yg lain agar keahlian kita tidak direndahkan oleh masyarakat? Dengan begitu kita bisa punya harga standar nasional yang layak.
Maaf kalau agak tajam, tapi ini adalah perjuangan saya sejak awal thn 1980an, saya ingin profesi tehnisi elektronik bisa lebih dihargai dimasyarakat kita. Itu saja.
kita juga dtuntut hrs pandai bergaul dan berbicara....dan alhamdulillah dgn cara demikian ditempat sy, ss sy dijuluki yg termahal hrg sewanya...namun juga tdk sepi job...
sebetulnya mnrt sy,hrg sewa yg mntukn bukn yg nyewa. tp kita sbg pemilik alat. Namun terkadang pemilik alat kususnya ss malah yg sering banting hrg..takut g' laku.
