10-07-2011, 09:10 PM
Salah seorang orangtua berkonsultasi dengan saya tentang keyboard. Dia ingin membeli keyboard untuk anaknya dengan dana terbatas (3-4 jutaan) dan keyboard tersebut memiliki media penyimpanan (flash disk atau memory card). Setelah mencari referensi melalui google dan solfegio, akhirnya saya sarankan Bapak tersebut membeli Casio CTK 6000.
Seminggu kemudian Bapak tersebut benar-benar jadi membeli Casio CTK 6000. Karena beliau benar-benar buta tentang keyboard, akhirnya keyboard tersebut dititip di rumah saya dengan tujuan agar saya juga bisa mempelajari pengoperasian keyboard tersebut dari buku manual yang notabene hanya tersedia dalam Bahasa Inggris dan kemudian bisa menjelaskan cara penggunaan keyboard tersebut kepada anaknya.
Pada awalnya saya juga merasa kesulitan memahami fitur-fitur Casio dari buku manualnya karena keterbatasan kemampuan saya dalam memahami bahasa Inggris. Namun setelah 3 hari, akhirnya saya menguasai fitur-fiturnya. Karena memory card keyboard tersebut hanya diisi song dan beberapa style berformaf *ckf dan semua style tersebut terdengar kacau (karena ekstensi style Casio CTK 6000 adalah *AC7). Akhirnya saya putuskan untuk membuat style sendiri dengan mencontek style buatan Lae Antoni yakni Cha-Dut. Berbekal software Ides 4.0 dan Cakewalk Pro Audio 9 dan kemudian diedit dengan rhythmn editor Casio CTK 6000, hasilnya diluar dugaan saya. Akhirnya saya memberanikan membuat review ini agar para solfers juga mengetahuinya (meskipun saya sama sekali tidak punya hubungan dengan perusahaan keyboard Casio hehe).
Berikut ini adalah hasil review saya tentang Casio CTK 6000.
1. Kualitas suara Casio CTK 6000 sudah mengalami peningkatan yang signifikan dari seri sebelumnya yang pernah saya pakai (WK 1800, WK 3800).
2. Kualitas voice juga sudah semakin baik. Saya benar-benar suka dengan karakter suara GM Flute, Sitar 2, strings, Tenor Sax, Brass 3, dan pianonya. Menurut pendengaran telinga saya, suara pianonya sudah cukup baik, karena didukung oleh fitur touch dan sustain (pedalnya dibeli terpisah). Saya benar-benar jatuh cinta dengan suara bright pianonya.
3. Fitur yang kaya seperti edit rhythmn, edit tone, mixer, record sequence 16 track, acompaniment type (Fingered 1, 2, 3, Full Chord, Casio Chord), voice disusun secara kategorial layaknya keyboard kelas profesional, registration, split, auto harmonize, layer (dual voice), transpose, dll. Saya suka dengan type accompaniment Fingered 3 karena fungsinya sama dengan fungsi Invers Bass pada Roland E-50/60. Dengan mudah saya bisa memainkan chord C/G, C/E, sangat membantu saat mengiringi lagu-lagu yang memiliki variasi chord seperti C/G.
4. Suara output yang cukup mengagumkan, suara drum, bass, gitar, piano, dll terdengar jelas pada saat saya memainkan style. Waktu saya memainkan style Cha-dut dan keyboard dalam keadaan tersambung pada Sound System, hmm suaranya tidak kalah dengan keyboard mahal. (Style ini dan beberapa style lainnnya sudah saya upload dan Anda bebas memakainya).
5. Beberapa style preset Casio CTK 6000 sudah cukup mempuni digunakan untuk mengiringi lagu. Saya suka dengan style A. Guitar Pop-nya.
6. Bila Anda ingin punya keyboard berkualitas dengan harga terjangkau, Casio CTK 6000 layak Anda pertimbangkan.
Beberapa Kelemahan:
1. Casio CTK 6000 hanya memiliki 2 pattern variasi, yakni normal dan variation (pada keyboard Yamaha disebut Main A dan Main B), 2 Fill-In, 1 Intro, dan 1 Ending. Tapi it’s OK karena harganya memang murah hehe.
2. Casio CTK 6000 belum memiliki style creator. (Fitur ini baru tersedia pada CTK 7000). Jadi bagi yang ingin membuat style sendiri, berusahalah mempelajari software Ides 4.0 hehe.
3. Beberapa fitur baru bisa aktif kalau menekan 2 tombol bersamaan. Misalnya kalau ingin mengubah transpose, saya harus menekan menu FUNCTION dan (-) /(+) bersamaan dan ini menyulitkan saya saat ingin pindah transpose saat bermain live. (Maklum, saya adalah transpose user sejati hehe).
4. Saya merasa kesulitan kalau ingin memutar song, misalnya judulnya Terlena.mid. Saya harus sabar dial selama beberapa menit karena saat pindah dari judul ke judul berikutnya membutuhkan waktu kurang lebih 4 detik. Ini disebabkan karena Casio menerapkan sistem auto loading pada songnya.
Seminggu kemudian Bapak tersebut benar-benar jadi membeli Casio CTK 6000. Karena beliau benar-benar buta tentang keyboard, akhirnya keyboard tersebut dititip di rumah saya dengan tujuan agar saya juga bisa mempelajari pengoperasian keyboard tersebut dari buku manual yang notabene hanya tersedia dalam Bahasa Inggris dan kemudian bisa menjelaskan cara penggunaan keyboard tersebut kepada anaknya.
Pada awalnya saya juga merasa kesulitan memahami fitur-fitur Casio dari buku manualnya karena keterbatasan kemampuan saya dalam memahami bahasa Inggris. Namun setelah 3 hari, akhirnya saya menguasai fitur-fiturnya. Karena memory card keyboard tersebut hanya diisi song dan beberapa style berformaf *ckf dan semua style tersebut terdengar kacau (karena ekstensi style Casio CTK 6000 adalah *AC7). Akhirnya saya putuskan untuk membuat style sendiri dengan mencontek style buatan Lae Antoni yakni Cha-Dut. Berbekal software Ides 4.0 dan Cakewalk Pro Audio 9 dan kemudian diedit dengan rhythmn editor Casio CTK 6000, hasilnya diluar dugaan saya. Akhirnya saya memberanikan membuat review ini agar para solfers juga mengetahuinya (meskipun saya sama sekali tidak punya hubungan dengan perusahaan keyboard Casio hehe).
Berikut ini adalah hasil review saya tentang Casio CTK 6000.
1. Kualitas suara Casio CTK 6000 sudah mengalami peningkatan yang signifikan dari seri sebelumnya yang pernah saya pakai (WK 1800, WK 3800).
2. Kualitas voice juga sudah semakin baik. Saya benar-benar suka dengan karakter suara GM Flute, Sitar 2, strings, Tenor Sax, Brass 3, dan pianonya. Menurut pendengaran telinga saya, suara pianonya sudah cukup baik, karena didukung oleh fitur touch dan sustain (pedalnya dibeli terpisah). Saya benar-benar jatuh cinta dengan suara bright pianonya.
3. Fitur yang kaya seperti edit rhythmn, edit tone, mixer, record sequence 16 track, acompaniment type (Fingered 1, 2, 3, Full Chord, Casio Chord), voice disusun secara kategorial layaknya keyboard kelas profesional, registration, split, auto harmonize, layer (dual voice), transpose, dll. Saya suka dengan type accompaniment Fingered 3 karena fungsinya sama dengan fungsi Invers Bass pada Roland E-50/60. Dengan mudah saya bisa memainkan chord C/G, C/E, sangat membantu saat mengiringi lagu-lagu yang memiliki variasi chord seperti C/G.
4. Suara output yang cukup mengagumkan, suara drum, bass, gitar, piano, dll terdengar jelas pada saat saya memainkan style. Waktu saya memainkan style Cha-dut dan keyboard dalam keadaan tersambung pada Sound System, hmm suaranya tidak kalah dengan keyboard mahal. (Style ini dan beberapa style lainnnya sudah saya upload dan Anda bebas memakainya).
5. Beberapa style preset Casio CTK 6000 sudah cukup mempuni digunakan untuk mengiringi lagu. Saya suka dengan style A. Guitar Pop-nya.
6. Bila Anda ingin punya keyboard berkualitas dengan harga terjangkau, Casio CTK 6000 layak Anda pertimbangkan.
Beberapa Kelemahan:
1. Casio CTK 6000 hanya memiliki 2 pattern variasi, yakni normal dan variation (pada keyboard Yamaha disebut Main A dan Main B), 2 Fill-In, 1 Intro, dan 1 Ending. Tapi it’s OK karena harganya memang murah hehe.
2. Casio CTK 6000 belum memiliki style creator. (Fitur ini baru tersedia pada CTK 7000). Jadi bagi yang ingin membuat style sendiri, berusahalah mempelajari software Ides 4.0 hehe.
3. Beberapa fitur baru bisa aktif kalau menekan 2 tombol bersamaan. Misalnya kalau ingin mengubah transpose, saya harus menekan menu FUNCTION dan (-) /(+) bersamaan dan ini menyulitkan saya saat ingin pindah transpose saat bermain live. (Maklum, saya adalah transpose user sejati hehe).
4. Saya merasa kesulitan kalau ingin memutar song, misalnya judulnya Terlena.mid. Saya harus sabar dial selama beberapa menit karena saat pindah dari judul ke judul berikutnya membutuhkan waktu kurang lebih 4 detik. Ini disebabkan karena Casio menerapkan sistem auto loading pada songnya.
