21-09-2014, 05:39 AM
Saya banyak menemui kesenjangan pemikiran untuk menghubungkan antara teori dan praktek pada orang-orang Indonesia yang saya baca di forum-forum.
Misalnya rumus daya P = V * I dan V = I * R yang diajarkan di SMP, banyak yang tidak bisa memahaminya dalam praktek. Rumus ya sekerdar rumus. Praktek lain lagi ceritanya :-D Makanya banyak yang bilang," teori doank... prakteknya kan beda"
Bahkan definisi apa itu tegangan, arus, dan impedansi masih banyak yang ngga ngerti. Padahal itu merupakan dasar dari elektronika. Kalau dasarnya saja ngga ngerti sudah pasti akan gagal memahami gambaran secara keseluruhan apa itu elektronika.
Seorang Newton yang melihat apel jatuh dari pohon, terinspirasi untuk menemukan hukum gravitasi. Bahwa benda kalau "jatuh" tidak ke bawah, tapi menuju benda yang gaya gravitasinya lebih besar. Esensi benda "jatuh" kalau dihubungkan dengan hukum alam akan mudah dipahami. Sedangkan pengamatan orang awam akan menarik kesimpulan bahwa benda kalau "jatuh" akan menuju ke bawah. Padahal bawah itu relatif. Jika orang lagi jungkir balik, bawah dan atasnya berubah. Demikian juga kalau ada di angkasa luar.
Pengalaman atau praktek berguna kalau dimaknai dengan benar. Oleh karena itu manusia diberi akal untuk memaknai pengalamannya sehingga peradabannya menjadi berkembang. Berbeda dengan tumbuhan dan hewan, walaupun pengalamannya beribu-ribu tahun sebanding dengan pengalaman manusia, tapi mereka tidak mengalami perkembangan peradaban.
Misalnya rumus daya P = V * I dan V = I * R yang diajarkan di SMP, banyak yang tidak bisa memahaminya dalam praktek. Rumus ya sekerdar rumus. Praktek lain lagi ceritanya :-D Makanya banyak yang bilang," teori doank... prakteknya kan beda"
Bahkan definisi apa itu tegangan, arus, dan impedansi masih banyak yang ngga ngerti. Padahal itu merupakan dasar dari elektronika. Kalau dasarnya saja ngga ngerti sudah pasti akan gagal memahami gambaran secara keseluruhan apa itu elektronika.
Seorang Newton yang melihat apel jatuh dari pohon, terinspirasi untuk menemukan hukum gravitasi. Bahwa benda kalau "jatuh" tidak ke bawah, tapi menuju benda yang gaya gravitasinya lebih besar. Esensi benda "jatuh" kalau dihubungkan dengan hukum alam akan mudah dipahami. Sedangkan pengamatan orang awam akan menarik kesimpulan bahwa benda kalau "jatuh" akan menuju ke bawah. Padahal bawah itu relatif. Jika orang lagi jungkir balik, bawah dan atasnya berubah. Demikian juga kalau ada di angkasa luar.
Pengalaman atau praktek berguna kalau dimaknai dengan benar. Oleh karena itu manusia diberi akal untuk memaknai pengalamannya sehingga peradabannya menjadi berkembang. Berbeda dengan tumbuhan dan hewan, walaupun pengalamannya beribu-ribu tahun sebanding dengan pengalaman manusia, tapi mereka tidak mengalami perkembangan peradaban.
